Sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas jalan kaki.
(1) Serangan Jantung.
Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot
jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner
yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah
yang lebih deras dan lancar. Berjalan kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup.
Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih
menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang.
Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons
penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki
tergopoh-gopoh. Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.
(2). Stroke.
Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke
pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.
(3). Berat badan stabil.
Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme
tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas
berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh
meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak
terjadi.
(4). Menurunkan berat badan.
Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai
kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan
berjalan kaki tergopoh-gopoh itu secara rutin. Kelebihan gajih di
bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan berjalan kaki
cukup laju paling kurang satu jam.
(5). Mencegah kencing manis.
Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam,
waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah
berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh
gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).
Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa
perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin
berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak
badan (brisk walking), obat tidak diperlukan. Itu berarti bahwa
berjalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.
(6). Mencegah osteoporosis.
Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja
otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis. Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.
(7). Meredakan encok lutut.
Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut
(osteoarthiris) . Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau
memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa
mereda. Untuk mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri. Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin pertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk. Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.
Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa
jadi lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek
menentukan kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki.
Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah
sekalipun, bisa memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki,
akibat beban dan goncangan yang harus dipikul oleh sendi.
(8) Depresi.
Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu
pasien dengan status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bisa
menggantikan obat antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal
terbebas dari depresi dengan berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10
tahun.
(9). Kanker juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki, setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma).
Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga
buang air besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh
tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan. Studi lain juga
menyebutkan peran berjalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.
Semoga bermanfaat.
Monggo di klik dibawah iklan di bawah ini demi kelancaran blog ini
Sabtu, 19 November 2011
Sabtu, 08 Oktober 2011
Kilas Sejarah Syeikh Jumadil Kubro
Jangan sampai melupakan sejarah, kiranya tepat semboyan dari Soekarno ini senantiasa kita gelorakan dalam memahami jati diri bangsa. Bagi umat muslim pun selayaknya mempelajari sejarah pengembaraan dakwah para syuhada’ terdahulu. Budaya ziarah ke makam para syuhada’ dan waliyullah bisa sekaligus dimanfaatkan untuk mempelajari sejarah perjuangannya. Sehingga, akan member manfaat lebih menghayati ajaran Islam sesungguhnya. Bagaimana Islam diajarkan dengan nilai-nilai dakwah yang sesuai dengan nalar piker umat, yaitu perlahan tapi pasti. Dengan demikian Islam bisa berkembang dinamis dan diterima dengan penuh kesadaran sesuai dengan watak Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Di sisi lain, nilai spirit Islam dalam memberikan pencerahan tidak dipahami sebagai agama-ansich yang kini kerap dijadikan sebagai pengkotakan golongan manusia. Melainkan ajaran hidup untuk memenuhi ketaqwaan umat kepada tuhannya.
Spirit Islam bisa dipelajari salah satunya dari keteladanan perjuangan Syeikh Jumadil Kubro yang sarat ketulusan dalam berdakwah. Selain kita bisa melestarikan ajarannya, dan kemudian mengemasnya sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian. Tidak berlebihan, bila keberadaannya menjadi referensi sejarah, keilmuan, dan nilai moral yang begitu penting bagi pembinaan dan pendidikangenerasi dari zaman ke zaman.
Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.
Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.
Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang hendak mendalami ilmu keislaman.
Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).
Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). Bermula dari usul yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar.
Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.
Lokasi kompleks makam ini berdekatan dengan Pendopo Agung Majapahit dan Pusat Informasi Majapahit yang pembangunannya menuai kontroversi. Hal itu karena proses pembangunannya diindikasikan merusak situs-situs peninggalan Majapahit yang diyakini hingga kini masih terkubur di dalam tanah kawasan Trowulan. Sekali dayung, maka semua tujuan napak tilas sejarah Majapahit bisa terpenuhi.
Spirit Islam bisa dipelajari salah satunya dari keteladanan perjuangan Syeikh Jumadil Kubro yang sarat ketulusan dalam berdakwah. Selain kita bisa melestarikan ajarannya, dan kemudian mengemasnya sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian. Tidak berlebihan, bila keberadaannya menjadi referensi sejarah, keilmuan, dan nilai moral yang begitu penting bagi pembinaan dan pendidikangenerasi dari zaman ke zaman.
Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.
Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.
Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang hendak mendalami ilmu keislaman.
Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).
Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). Bermula dari usul yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar.
Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.
Lokasi kompleks makam ini berdekatan dengan Pendopo Agung Majapahit dan Pusat Informasi Majapahit yang pembangunannya menuai kontroversi. Hal itu karena proses pembangunannya diindikasikan merusak situs-situs peninggalan Majapahit yang diyakini hingga kini masih terkubur di dalam tanah kawasan Trowulan. Sekali dayung, maka semua tujuan napak tilas sejarah Majapahit bisa terpenuhi.
Jumat, 07 Oktober 2011
Tips Alami Cegah Osteoporosis
Tips Alami Cegah Osteoporosis – Saat ini banyak sekali dijual dipasaran susu-susu yang katanya mampu untuk mencegah osteoporosis. Di tv-tv pun sering sekali diiklankan mengenai produk-produk yang mampu mencegah osteoporosis. Tapi bukan berarti semua produk yang dijual di pasaran itu menjanjikan tidak akan terkena osteoporosis. Lebih baik sedia payung sebelum hujan, lebih baik kita mencegah daripada mengobati. Sekiranya itulah semboyan yang tepat yang wajib anda tanamkan dalam diri anda untuk menjaga kesehatan anda. Menurut WHO, osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang. Osteoporosis bukan hanya berkurangnya kepadatan tulang tetapi juga penurunan kekuatan tulang. Pada osteoporosis kerusakan tulang lebih cepat daripada perbaikan yang dilakukan oleh tubuh. Osteoporosis sering disebut juga dengan keropos tulang. Tulang-tulang yang sering mengalami fraktur/patah yaitu : tulang ruas tulang belakang, tulang pinggul, tungkai dan pergelangan lengan bawah. Osteoporosis dapat dicegah dengan cara alami, mau tahu gimana caranya? Ikuti tips alami cegah osteoporosis yang dijabarkan berikut ini.
Tips Alami Cegah Osteoporosis.Kekerasan tulang yang dialami oleh setiap orang akan berangsur-angsur menurun setelah memasuki umur 40 tahun. Pada wanita, menopause mempercepat proses pengeroposan tulang ini, khususnya jika mereka memiliki tulang-tulang yang tipis atau kecil, berambut merah atau pirang atau kulit yang berbintik-bintik, keturunan orang Eropa Utara atau Asia atau yang tidak pernah mempunyai anak. Merokok, hidup menetap, minum kortikosteroid, dan mengkonsumsi makanan yang mengandung sedikit kalsium juga meningkatkan resiko pengeroposan ini. Makin awal mengalami menopause, semakin tinggi resiko anda. Jika anda tidak menginginkan hal ini terjadi terlalu cepat maka mulailah belajar hidup sehat dengan panduan tips alami cegah osteoporosis yang akan dijabarkan selengkapnya.
Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat,rendah lemak,dan kaya kalsium (1000 -1500 mg per hari) merupakan salah satu cara untuk mencegah osteoporosis. Selanjutnya pastikan diet anda mengandung 1000 miligram kalsium per hari ( jika anda pra menopause ) atau 1500 miligram per hari (jika anda post-menopause). Hindari suplemen yang berasal dari dolomite atau tepung tulang, bagaimanapun juga dalam mengkonsumsi kalsium jangan melebihi 1500 miligram kalsium per hari. Anda juga harus mengurangi konsumsi sodium, garam, daging merah, dan makanan yang diasinkan. Mulailah program reguler, latihan mempertahankan berat badan seperti jalan-jalan, jogging, bersepeda atau aerobik yang tak berpengaruh atau pegaruhnya rendah. Hindari minum kopi secara berlebihan karena dapat mengeluarkan kalsium secara berlebihan, kurangi juga softdrink/minuman ringan karena dapat menghambat penyerapan kalsium. Hindari minuman beralkohol dan rokok karena dapat menyerap cadangan kalsium dalam tubuh. Paparan matahari (di pagi hari dan sore menjelang magrib ) membantu pembentukan vitamin D. Mungkin anda juga perlu menanyakan pada dokter tentang terapi penggantian estrogen yang dapat mencegah osteoporosis dan efek-efek samping dari menopause yang lain.
Lebih baik menjaga diri dengan hidup sehat daripada menggunakan obat-obatan, karena benda asing yang masuk ke dalam tubuh anda pasti akan memberikan efek samping sekecil apapun. Sayangilah diri anda karena sesungguhnya kesehatan itu mahal harganya. Tips alami cegah osteoporosis di atas dapat membantu menjaga kesehatan tulang anda. Cobalah!
Tips Alami Cegah Osteoporosis.Kekerasan tulang yang dialami oleh setiap orang akan berangsur-angsur menurun setelah memasuki umur 40 tahun. Pada wanita, menopause mempercepat proses pengeroposan tulang ini, khususnya jika mereka memiliki tulang-tulang yang tipis atau kecil, berambut merah atau pirang atau kulit yang berbintik-bintik, keturunan orang Eropa Utara atau Asia atau yang tidak pernah mempunyai anak. Merokok, hidup menetap, minum kortikosteroid, dan mengkonsumsi makanan yang mengandung sedikit kalsium juga meningkatkan resiko pengeroposan ini. Makin awal mengalami menopause, semakin tinggi resiko anda. Jika anda tidak menginginkan hal ini terjadi terlalu cepat maka mulailah belajar hidup sehat dengan panduan tips alami cegah osteoporosis yang akan dijabarkan selengkapnya.
Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat,rendah lemak,dan kaya kalsium (1000 -1500 mg per hari) merupakan salah satu cara untuk mencegah osteoporosis. Selanjutnya pastikan diet anda mengandung 1000 miligram kalsium per hari ( jika anda pra menopause ) atau 1500 miligram per hari (jika anda post-menopause). Hindari suplemen yang berasal dari dolomite atau tepung tulang, bagaimanapun juga dalam mengkonsumsi kalsium jangan melebihi 1500 miligram kalsium per hari. Anda juga harus mengurangi konsumsi sodium, garam, daging merah, dan makanan yang diasinkan. Mulailah program reguler, latihan mempertahankan berat badan seperti jalan-jalan, jogging, bersepeda atau aerobik yang tak berpengaruh atau pegaruhnya rendah. Hindari minum kopi secara berlebihan karena dapat mengeluarkan kalsium secara berlebihan, kurangi juga softdrink/minuman ringan karena dapat menghambat penyerapan kalsium. Hindari minuman beralkohol dan rokok karena dapat menyerap cadangan kalsium dalam tubuh. Paparan matahari (di pagi hari dan sore menjelang magrib ) membantu pembentukan vitamin D. Mungkin anda juga perlu menanyakan pada dokter tentang terapi penggantian estrogen yang dapat mencegah osteoporosis dan efek-efek samping dari menopause yang lain.
Lebih baik menjaga diri dengan hidup sehat daripada menggunakan obat-obatan, karena benda asing yang masuk ke dalam tubuh anda pasti akan memberikan efek samping sekecil apapun. Sayangilah diri anda karena sesungguhnya kesehatan itu mahal harganya. Tips alami cegah osteoporosis di atas dapat membantu menjaga kesehatan tulang anda. Cobalah!
Trik Melangsingkan Wajah
Sudah sewajarnya jika wanita itu selalu ingin tampil cantik dan menarik. Berbagai cara pun dilakukan demi memoles wajah agar tampak cantik menawan dengan penampilannya. Tapi tampil cantik mempesona pun tidak hanya sekedar asal-asalan, anda harus tahu bagaimana menyesuaikan bentuk wajah dengan make up yang anda gunakan. Jika anda salah mengetrapkan mode dengan bentuk tubuh maka tidak akan terlihat cantik pula. Jika anda adalah pemilik pipi tembem atau wajah bulat seringkali hal ini yang membuat para wanita terganggu. Mau wajah Anda terlihat lebih ‘langsing’? Trik melangsingkan wajah ini bisa Anda coba!
Siapa sich yang tidak ingin berpenampilan maksimal? Siapapun orangnya pasti ingin yang terbaik bagi dirinya, apalagi bagi orang yang merasa gemuk dan berwajah bulat rasanya mereka sangat sulit sekali untuk berpenampilan yang menarik, tapi kini anda tidak perlu kawatir dengan hal itu. Segala masalah pasti ada jalan keluarnya termasuk masalah tata rias wajah. Nah bagi anda yang ingin terlihat langsing wajahnya anda boleh coba trik melangsingkan wajah yang diuraikan di bawah ini…
Untuk riasan mata. Riasan mata dapat mempengaruhi wajah terlihat lebih ramping. Menurut Valerie Sarnelle, yang membuat Valerie Beverly hills kosmetik “buat mata Anda terlihat besar, semakin besar dan luas make up mata terlihat semakin kurus wajah Anda. Pastikan juga alis Anda rapi dan terbentuk. Sedangkan untuk riasan bibir. Rekomendasi dari Paula Dorf, New york city make up artist, jika bibir Anda kecil buat penuh bibir bawah Anda. Bibir kecil semakin memperlihatkan wajah Anda yang chubby. Cara menyiasatinya, pakai lip gloss pada tengah bibir Anda. Jangan menggunakan lip liner, karena semakin membuat bibir Anda nampak kecil. Dan yang terakhir untuk riasan pipinya. Menurut penata rias selebriti Brigitte Reiss-Andersen, “tandai sudut-sudut wajah Anda”. Bagaimana caranya? dengan membentuk “titik tertinggi” dari wajah Anda (pipi dan tulang alis). Lalu aplikasikan blush on pada pipi di dalam titik yang telah ditandai.
Ketiga trik melangsingkan wajah di atas cukup membantu membuat wajah anda terlihat langsing. Dengan mencoba menerapkan trik di atas akan mampu membuat penampilan anda maksimal dan anda akan terlihat sangat cantik dan menarik. Bagi anda yang memiliki pipi tembem atau wajah yang bulat, anda tidak perlu lagi merasa minder untuk berpenampilan cantik dan menarik. Cobalah melakukan trik melangsingkan wajah tembem di atas dan munculkan rasa percaya diri anda….
Siapa sich yang tidak ingin berpenampilan maksimal? Siapapun orangnya pasti ingin yang terbaik bagi dirinya, apalagi bagi orang yang merasa gemuk dan berwajah bulat rasanya mereka sangat sulit sekali untuk berpenampilan yang menarik, tapi kini anda tidak perlu kawatir dengan hal itu. Segala masalah pasti ada jalan keluarnya termasuk masalah tata rias wajah. Nah bagi anda yang ingin terlihat langsing wajahnya anda boleh coba trik melangsingkan wajah yang diuraikan di bawah ini…
Untuk riasan mata. Riasan mata dapat mempengaruhi wajah terlihat lebih ramping. Menurut Valerie Sarnelle, yang membuat Valerie Beverly hills kosmetik “buat mata Anda terlihat besar, semakin besar dan luas make up mata terlihat semakin kurus wajah Anda. Pastikan juga alis Anda rapi dan terbentuk. Sedangkan untuk riasan bibir. Rekomendasi dari Paula Dorf, New york city make up artist, jika bibir Anda kecil buat penuh bibir bawah Anda. Bibir kecil semakin memperlihatkan wajah Anda yang chubby. Cara menyiasatinya, pakai lip gloss pada tengah bibir Anda. Jangan menggunakan lip liner, karena semakin membuat bibir Anda nampak kecil. Dan yang terakhir untuk riasan pipinya. Menurut penata rias selebriti Brigitte Reiss-Andersen, “tandai sudut-sudut wajah Anda”. Bagaimana caranya? dengan membentuk “titik tertinggi” dari wajah Anda (pipi dan tulang alis). Lalu aplikasikan blush on pada pipi di dalam titik yang telah ditandai.
Ketiga trik melangsingkan wajah di atas cukup membantu membuat wajah anda terlihat langsing. Dengan mencoba menerapkan trik di atas akan mampu membuat penampilan anda maksimal dan anda akan terlihat sangat cantik dan menarik. Bagi anda yang memiliki pipi tembem atau wajah yang bulat, anda tidak perlu lagi merasa minder untuk berpenampilan cantik dan menarik. Cobalah melakukan trik melangsingkan wajah tembem di atas dan munculkan rasa percaya diri anda….
Tips Aman Menggunakan Tabung Gas
Mungkin bagi sebagian besar orang beranggapan bahwa dibandingkan menggunakan bahan bakar minyak tanah, menggunakan bahan bakar gas dengan tabung LPG (liquid petroleum gas) perlu perlakuan ekstra hati-hati. Pasalnya, gas sangat mudah terbakar sehingga harus dihindari kebocoran tabung sekecil dan sedini mungkin. Pastikan tabung benar-benar aman selama dipakai. Karena sering sekali terjadi kebakaran akibat kebocoran gas. Tentunya anda tidak ingin bukan hal semacam itu menimpa anda. Nah, agar anda tidak salah menggunakan tabung gas maka ikuti tips aman menggunakan tabung gas berikut agar anda aman dari kebocoran gas yang berujung pada kebakaran.
Ada beberapa cara yang dapat anda lakukan jika anda ingin aman dalam menggunakan tabung gas. Berikut ini tips aman menggunakan tabung gas yang dapat anda pelajari dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedia payung sebelum hujan. Lebih baik kita mencegah sedari sekarang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pengguna LPG perlu mencermati tabung yang akan dipakai sejak membeli dari pengecer dan saat pemasangan di rumah. Pemerintah telah menetapkan standar kualitas tabung gas dan regulator yang beredar di pasaran. Pastikan tabung yang dipakai sesuai standar mutu tersebut.
Tips Aman Menggunakan Tabung Gas.Tempat meletakkan tabung pun sebaiknya tidak sembarangan, tetapi harus dengan kondisi ruangan yang berisiko paling minim. Jika sampai gas bocor dan terkumpul di ruangan sempit, bisa menyebabkan ledakan dahsyat bila tersulut api.
Kalaupun sewaktu-waktu terjadi kebocoran, pengguna perlu tahu apa langkah yang harus dilakukan agar tidak sampai menyebabkan ledakan. Dinas Perindustrian dan Energi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pertamina telah menelurkan tips aman menggunakan tabung gas dan hotline di nomor 500 000. Berikut tips aman menggunakan tabung gas:
Saat membeli: – Pilih tabung dengan kondisi baik: mutu pengelasan baik, tanpa penyok, karat, goresan, cungkilan, dan tonjolan pada tabung. – Pilih tabung yang tercetak logo SNI. – Pastikan segel plastik dalam keadaan baik. – Jika segel plastik dilepas, karet pengaman masih ada dan dalam keadaan baik (masih elastis, tidak longgar, aus, atau robek).
Sebelum menggunakan: – Tempatkan tabung pada ruangan dengan ventilasi terbaik. – Pastikan regulator dalam kondisi baik dan terpasang erat pada katup tabung dengan posisi knop regulator mengarah ke bawah. – Pastikan selang dalam kondisi baik dan terpasang erat dengan klem pada regulator maupun kompor, dan tidak tertekuk atau tertindih. – Saat tabung gas yang lama, pastikan tidak ada sumber api (rokok, kompor) menyala karena dimungkinkan masih ada sisa gas.
Jika terjadi kebocoran: – Segera matikan kompor, lepas tabung gas dari regulator, dan bawa tabung ke tempat terbuka dengan sirkulasi udara baik. – Buka semua ventilasi udara selebar-lebarnya sampai bau khas LPG hilang. – Jangan menghidupkan sumber api, peralatan listrik, dan peralatan lainnya yang dapat menimbulkan percikan listrik/api. – Periksa sumber kebocoran dengan mencelupkan tabung pada bak berisi air.
Disaat seperti sekarang ini, minyak tanah yang harganya melambung tinggi membuat orang-orang mengalihkan pilihannya pada gas. Banyak dari pemerintah memberikan kompor gas gratis beserta tabungnya. Tapi anda pun harus cermat dalam menggunakannya, tentunya setiap barang itu ada efek negatif yang terkandung di dalamnya. Jika anda pengguna yang cermat maka kebakaran akibat tabung gas bisa dihindari sebagaimana mestinya. Berbekal tips aman menggunakan tabung gas semoga dapat membantu anda agar terhindar dari bahaya tabung gas yang terjadi. Selamatkan diri anda dan keluarga…
Ada beberapa cara yang dapat anda lakukan jika anda ingin aman dalam menggunakan tabung gas. Berikut ini tips aman menggunakan tabung gas yang dapat anda pelajari dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedia payung sebelum hujan. Lebih baik kita mencegah sedari sekarang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pengguna LPG perlu mencermati tabung yang akan dipakai sejak membeli dari pengecer dan saat pemasangan di rumah. Pemerintah telah menetapkan standar kualitas tabung gas dan regulator yang beredar di pasaran. Pastikan tabung yang dipakai sesuai standar mutu tersebut.
Tips Aman Menggunakan Tabung Gas.Tempat meletakkan tabung pun sebaiknya tidak sembarangan, tetapi harus dengan kondisi ruangan yang berisiko paling minim. Jika sampai gas bocor dan terkumpul di ruangan sempit, bisa menyebabkan ledakan dahsyat bila tersulut api.
Kalaupun sewaktu-waktu terjadi kebocoran, pengguna perlu tahu apa langkah yang harus dilakukan agar tidak sampai menyebabkan ledakan. Dinas Perindustrian dan Energi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pertamina telah menelurkan tips aman menggunakan tabung gas dan hotline di nomor 500 000. Berikut tips aman menggunakan tabung gas:
Saat membeli: – Pilih tabung dengan kondisi baik: mutu pengelasan baik, tanpa penyok, karat, goresan, cungkilan, dan tonjolan pada tabung. – Pilih tabung yang tercetak logo SNI. – Pastikan segel plastik dalam keadaan baik. – Jika segel plastik dilepas, karet pengaman masih ada dan dalam keadaan baik (masih elastis, tidak longgar, aus, atau robek).
Sebelum menggunakan: – Tempatkan tabung pada ruangan dengan ventilasi terbaik. – Pastikan regulator dalam kondisi baik dan terpasang erat pada katup tabung dengan posisi knop regulator mengarah ke bawah. – Pastikan selang dalam kondisi baik dan terpasang erat dengan klem pada regulator maupun kompor, dan tidak tertekuk atau tertindih. – Saat tabung gas yang lama, pastikan tidak ada sumber api (rokok, kompor) menyala karena dimungkinkan masih ada sisa gas.
Jika terjadi kebocoran: – Segera matikan kompor, lepas tabung gas dari regulator, dan bawa tabung ke tempat terbuka dengan sirkulasi udara baik. – Buka semua ventilasi udara selebar-lebarnya sampai bau khas LPG hilang. – Jangan menghidupkan sumber api, peralatan listrik, dan peralatan lainnya yang dapat menimbulkan percikan listrik/api. – Periksa sumber kebocoran dengan mencelupkan tabung pada bak berisi air.
Disaat seperti sekarang ini, minyak tanah yang harganya melambung tinggi membuat orang-orang mengalihkan pilihannya pada gas. Banyak dari pemerintah memberikan kompor gas gratis beserta tabungnya. Tapi anda pun harus cermat dalam menggunakannya, tentunya setiap barang itu ada efek negatif yang terkandung di dalamnya. Jika anda pengguna yang cermat maka kebakaran akibat tabung gas bisa dihindari sebagaimana mestinya. Berbekal tips aman menggunakan tabung gas semoga dapat membantu anda agar terhindar dari bahaya tabung gas yang terjadi. Selamatkan diri anda dan keluarga…
Sabtu, 01 Oktober 2011
Al Qur'an sebagai obat hati
Al Qur’an adalah obat mujarab
untuk hati. Al Qur’an menjadi
obat bagi hati yang terkena
syubhat (racun pemikiran) dan
syahwat (nafsu jelek untuk
maksiat). Dalam Al Qur’an
terdapat penjelas, di mana
kebatilan dienyahkan oleh
kebenaran. Penyakit syubhat
yang merusak bisa enyah
(pergi) karena adanya ilmu dan
keinginan (yang baik), di mana
hakikat sesuatu begitu jelas
karenanya. Dalam Al Qur’an
terdapat berbagai hikmah yang
bisa dipetik, terdapat berbagai
nasehat yang baik untuk
memotivasi dalam beramal dan
menakut-nakuti dari berbuat
kejelekan. Dalam Al Qur’an juga
terdapat kisah-kisah yang bisa
diambil ‘ibroh (pelajaran)
sehingga hati pun menjadi baik.
Al Qur’an begitu memberi
semangat hati pada hal-hal
yang bermanfaat dan
memperingatkan pula dari hal-
hal yang membahayakan.
Akhirnya, hati semakin cinta
pada kebenaran dan benci pada
kebatilan. Padahal sebelumnya
bisa jadi hati sangat ingin
berbuat kebatilan dan benci
pada kebenaran.
Al Qur’an sungguh bisa
menghilangkan penyakit yang
dapat mengantarkan pada
keinginan-keinginan jelek
(rusak) hingga baiklah hati.
Keinginannya menjadi baik dan
ia pun kembali pada fithrahnya
yang telah ditabiatkan
untuknya sebagaimana badan
kembali pada tabi’atnya.
Hati akan semakin hidup
dengan adanya
iman dan Al
Qur’an. Sebagaimana badan
semakin hidup dengan sesuatu
yang dapat menumbuhkan dan
menguatkannya. Suburnya hati
itulah semisal dengan
tumbuhnya badan.
Sumber: Majmu’ Al Fatawa,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
Darul Wafa’, 10/95-96.
Hati bukanlah subur dan hidup
dengan nyanyian, namun
dengan Kalamullah. Dan kata
Ibnul Qayyim bahwa nyanyian
(musik) dan Al Qur’an sangat
mustahil untuk bersatu. Inilah
cara menyuburkan dan
menenangkan hati, yaitu
dengan mendengar, membaca,
menghafalkan dan
mentadabburi (merenungkan)
Al Qur’an. Silakan baca tentang
Hukum Nyanyian/ Musik di web
Rumaysho.com
di sini
untuk hati. Al Qur’an menjadi
obat bagi hati yang terkena
syubhat (racun pemikiran) dan
syahwat (nafsu jelek untuk
maksiat). Dalam Al Qur’an
terdapat penjelas, di mana
kebatilan dienyahkan oleh
kebenaran. Penyakit syubhat
yang merusak bisa enyah
(pergi) karena adanya ilmu dan
keinginan (yang baik), di mana
hakikat sesuatu begitu jelas
karenanya. Dalam Al Qur’an
terdapat berbagai hikmah yang
bisa dipetik, terdapat berbagai
nasehat yang baik untuk
memotivasi dalam beramal dan
menakut-nakuti dari berbuat
kejelekan. Dalam Al Qur’an juga
terdapat kisah-kisah yang bisa
diambil ‘ibroh (pelajaran)
sehingga hati pun menjadi baik.
Al Qur’an begitu memberi
semangat hati pada hal-hal
yang bermanfaat dan
memperingatkan pula dari hal-
hal yang membahayakan.
Akhirnya, hati semakin cinta
pada kebenaran dan benci pada
kebatilan. Padahal sebelumnya
bisa jadi hati sangat ingin
berbuat kebatilan dan benci
pada kebenaran.
Al Qur’an sungguh bisa
menghilangkan penyakit yang
dapat mengantarkan pada
keinginan-keinginan jelek
(rusak) hingga baiklah hati.
Keinginannya menjadi baik dan
ia pun kembali pada fithrahnya
yang telah ditabiatkan
untuknya sebagaimana badan
kembali pada tabi’atnya.
Hati akan semakin hidup
dengan adanya
iman dan Al
Qur’an. Sebagaimana badan
semakin hidup dengan sesuatu
yang dapat menumbuhkan dan
menguatkannya. Suburnya hati
itulah semisal dengan
tumbuhnya badan.
Sumber: Majmu’ Al Fatawa,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
Darul Wafa’, 10/95-96.
Hati bukanlah subur dan hidup
dengan nyanyian, namun
dengan Kalamullah. Dan kata
Ibnul Qayyim bahwa nyanyian
(musik) dan Al Qur’an sangat
mustahil untuk bersatu. Inilah
cara menyuburkan dan
menenangkan hati, yaitu
dengan mendengar, membaca,
menghafalkan dan
mentadabburi (merenungkan)
Al Qur’an. Silakan baca tentang
Hukum Nyanyian/ Musik di web
Rumaysho.com
di sini
Rabu, 24 Agustus 2011
Makna-Makna dan Hikmah-Hikmah Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan selain bulan yang penuh
berkah sebenarnya mempunyai beberapa
nama julukan. Nama-nama itu merefleksikan
makna keberkahan Ramadhan yang dapat
diraih bagi yang menjalaninya dengan benar.
Tulisan ini sebenarnya ulasan dari suatu
artikel yang saya baca setahun yang lalu di
beberapa situs Internet yang menjelaskan
nama-nama lain bulan Ramadhan. Tapi,
meskipun informasinya sudah beredar lama
di masyarakat, tidak ada salahnya juga kan
kalau kita mengingat kembali makna dan
hikmah nama-nama bulan Ramadhan yang
dikenal Umat Islam.
Bagi Umat Islam, pengidentifikasian nama-
nama bulan Ramadhan dengan berbagai
sinonimnya sebenarnya mengandung
maksud. Nama-nama itu diungkapkan dengan
singkat dan tepat sebagai “pengingat cepat
atau penggugah” dan “keywords” tentang
apa yang sebaiknya dilakukan di bulan
tersebut. Selain itu, nama-nama bulan
Ramadhan juga menyatakan berkah dan
maghfirah yang dapat diraih pada kondisi
dan suasana paling baik selama satu tahun ke
belakang dan ke depan (Ramadhan tahun
depan seandainya masih bisa diberi umur).
Demikian banyaknya keutamaan dan peluang
untuk berubah di hadapan Allah SWT di bulan
Ramadhan ini hingga bulan Ramadhan sering
dikiaskan dengan perumpamaan Tamu
Agung yang istimewa. Perumpamaan dan
keistimewaan itu tidak saja menunjukkan
kesakralannya dibandingkan dengan bulan
lain. Namun, mengandung suatu pengertian
yang lebih nyata pada aspek penting adanya
peluang bagi pendidikan manusia secara lahir
dan batin untuk meningkatkan kualitas ruhani
maupun jasmaninya seoanjang hidupnya.
Karena itu, Bulan Ramadhan dapat disebut
sebagai Syahrut Tarbiyah atau Bulan
Pendidikan. Penekanan pada kata Pendidikan
ini menjadi penting karena pada bulan ini kita
dididik langsung oleh Allah SWT. Pendidikan
itu meliputi aktivitas yang sebenarnya
bersifat umum seperti makan pada waktunya
sehingga kesehatan kita terjaga. Atau kita
diajarkan oleh supaya bisa mengatur waktu
dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan,
kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat
dan kapan waktu ibadah. Jadi, pendidikan itu
berhubungan langsung dengan penataan
kembali kehidupan kita di segala bidang.
Menata kehidupan sesungguhnya bagian dari
proses mawas diri atau introspeksi. Jadi,
bulan Ramadhan sesungguhnya bulan terbaik
sebagai masa mawas diri yang intensif.
Proses mawas diri melibatkan evaluasi diri ke
wilayah kedalaman jiwa untuk dinyatakan
kembali dalam keseharian sebagai akhlak dan
perilaku mulai yang membumi. Tentunya
evaluasi ini didasarkan atas pengalaman
hidup sebelumnya yaitu pengalaman atas
semua peristiwa dan perilaku sebelas bulan
sebelumnya sebagai ladang maghfirah yang
sudah disemai dan ditanami pohon benih-
benih perbuatan. Selain itu, evaluasi juga
mencakup taksiran untuk kehidupan di masa
depan, baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Pada masa Rasulullah peperangan fisik
banyak terjadi pada bulan Ramadhan dan itu
semua dimenangkan kaum muslimin.
Peperangan fisik di masa Rasulullah adalah
suatu keharusan yang tidak dapat ditolak
karena situasi dan kondisi yang dihadapi saat
itu. Namun, seperti diungkapkan dalam hadis
Nabi seusai Perang Badar, yang paling berat
adalah peperangan kita untuk berjihad
melawan hawa nafsu sendiri. Karena itu
bulan Ramadhan sering disebut sebagai
Syahrul Jihad dengan fokus pada
pengendalian hawa nafsu diri sendiri (yaitu
Wa Nafsi, simak QS 91:7).
Jihad melawan nafsu adalah ungkapan untuk
menyucikan dan memurnikan nafsu kita
untuk kembali semurni-murninya, yaitu dalam
keadaan fitri. Ungkapan ini sebenarnya
berasal dari firman Allah dalam QS 91:7-10
dan beberapa ayat lainnya yang berbunyi
senada yaitu menyucikan jiwa. Menyucikan
Jiwa adalah syarat yang mengiringi proses
awal penerimaan wahyu yaitu IQRA (simak
QS 96:1-5). Hal ini tentunya erat kaitannya
dengan buah dari pendidikan jiwa secara
intuitif maupun intelektual murni (atau
intelek awal), dengan rasionalitas dan
penyingkapan tabir-tabir gelap jiwa kita yang
sejatinya “Ummi” dan “Fakir” di hadapan
Allah, Rabbul ‘Aalamin (Pencipta, Pemelihara
dan Pendidik semua makhlukNya).
Dari kedua pengertian nama bulan Ramadhan
sebagai Bulan Pendidikan dan Bulan Jihad
Melawan hawa nafsu tersebut, maka
terungkaplah kemudian nama bulan
Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an. Al-Qur’an
pertama sekali diturunkan di bulan Ramadhan
dan pada bulan ini sebaiknya kita banyak
membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an
sehingga kita faham dan mengerti perintah
Allah yang terkandung di dalamnya.
Karenanya, penamaan Syahrul Tarbiyah dan
Syahrul Jihad sebenarnya berhubungan
dengan suatu prakondisi sebelum Nabi
Muhammad SAW menerima al-Qur’an sebagai
Wahyu yang diwahyukan. Dalam konteks ini
maka bulan Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an
sebenarnya merupakan peluang bagi semua
Umat Islam yang bersyahadat dengan Nama
Muhammad untuk mengkaji dan menggali
nilai-nilai spiritual al-Qur’an untuk dinyatakan
menjadi akhlak mulia alias akhlak Muhammad
alias akhlak Qur’ani.
Pendek kata, Bulan Ramadhan sebenarnya
merupakan napak tilas bagi semua Umat Islam
untuk memakrifati perjanjiannya dengan
Allah SWT (syahadatnya) sebagai manusia
yang dilahirkan dan berkembang untuk
menjalani hidup dengan kesadaran kudus.
Napak tilas ini dilakukan lebih intim di Bulan
Ramadhan dimana Umat Islam diharapkan
dapat mengalami keadaan jasmani dan ruhani
yang mirip dengan yang dialami Nabi
Muhammad SAW ketika Al Qur’an turun ke
Bumi. Inilah rahasianya kenapa di bulan ini
ada yang disebut penyendirian total dengan
I’tikaf di masjid pada 10 terakhir bulan
Ramadhan dan ada malam Lailatul Qadar atau
malam 1000 bulan. Karena itu, menurut saya,
Ramadhan dapat disebut juga sebagai bulan
napak tilas Nuzulul Qur’an dan Pemurnian
Pengetahuan Tauhid dengan Aslim dan
Islam yang lurus seperti halnya moyang Nabi
Muhammad SAW dulu yaitu Ibrahim a.s yang
memenggal kepala berhala yang dipuja
kaumnya. Dari sini makna jihad melawan
hawa nafsu pun dapat diungkapkan kembali
sebagai jihad untuk memenggal kepala
berhala-berhala hawa nafsu yang masih
bercokol di dalam hati Umat Islam.
Selain prosesi yang bersifat keruhanian
dengan pendidikan dan penerapan
praktisnya, di bulan Ramadhan kita
merasakan sekali suasana ukhuwah diantara
kaum muslimin terjalin sangat erat dengan
selalu berinteraksi di Masjid/Mushollah untuk
melakkukan sholat berjama’ah. Dan diantara
tetangga juga saling mengantarkan
perbukaan sehingga antara kaum muslimin
terasa sekali kebersamaan dan kesatuan kita.
Syahrrul Ukhuwah adalah dimensi praktek
yang dinyatakan bersamaan dengan
pendidikan jasmani dan ruhani di bulan
Ramadhan.
Seiring dengan semua itu, maka semakin
jelaslah bahwa Bulan Ramadhan disebut juga
sebagai Bulan Ibadah karena pada bulan ini
kita banyak sekali melakukan ibadah-ibadah
sunnah disamping ibadah wajib seperti sholat
sunnat dhuha, rawatib dan tarawih ataupun
qiyamullai serta tadarusan al-Ar’an. Bahkan
dalam pengertian yang lebih luas, dimana
semua makhluk diciptakan Allah sebagai
hambaNya, maka semua aktivitas jasmani dan
ruhani kita di Bulan Ramadhan dilatih untuk
selalu menyatakan kebiasaan-kebiasaan luhur
bahwa semua aktivitas kehidupan kita
sejatinya adalah ibadah kepadaNya. Inilah
dimensi makrifat Ramadhan ketika Umat
Islam memasuki ketakwaan sesungguhnya
sebagai tujuan dari diwajibkannya puasa (QS
2:183).
Untuk menjadi manusia takwa, peningkatan
kualitas kemanusiaan terjadi di wilayah lahir
maupun batin. Artinya dengan pemaknaan,
pemahaman, ilmu dan tindakan yang
seimbang dengan Kehendak Allah. Dengan
hati, akal, dan perbuatan seluruh bagian
tubuh manusia. Puasa Umat Islam di Bulan
Ramadhan, akhirnya memang bukan sekedar
menahan lapar dan haus secara harfiah.
Namun, meliputi seluruh kenyataan diri kita
sebagai makhluk yang berjasad, berjiwa, dan
diberi amanat Ilahi untuk mengungkapkan jati
diri kekhalifahanNya (kemampuannya untuk
menerima amanat Pengetahuan Tauhid).
Karenanya, tolok ukur keberhasilan seseorang
menjalankan puasa Ramadhan sebagai
manusia yang takwa justru akan terlihat
bukan hanya saat puasa dilaksanakan semata.
Hasil puasa Ramadhan yang optimal dengan
kiasan 1000 bulan, justru harus lebih banyak
mempengaruhi perilaku manusia di waktu
sesudah puasa, yaitu 11 bulan ke depan
sampai kematian tiba. Penekanan dengan
sisipan “harus” ini untuk mengingatkan kita
supaya jangan menjadi bodoh dan lalai
kembali seolah-olah Umat Islam hanya
menjadi umat yang baik di bulan Ramadhan
dan menjelang Iedul Fitri saja. Suasana
Ramadhan harus dapat disebarkan kedalam
rentang waktu 11 bulan kedepan setelah
Ramadhan dan Iedul Fitri. Itulah sebenarnya
Ladang Maghfirah yang harus mulai kembali
diolah terus menerus untuk ditanami dengan
amaliah kehidupan untuk menghasilkan buah-
buah kehidupan yang paripurna.
Ladang Maghfirah adalah modal sekaligus
peluang bagi manusia untuk kembali sadar
dan berjalan di jalan Shirathaal Mustaqiim dan
sampai dengan selamat di hadirat Allah SWT.
Peluang ini berlaku bagi semua umat Islam
yang dewasa dan bertanggung jawab, yang
jiwanya selama menjalani kehidupan telah
terkontaminasi oleh berbagai perbuatan yang
tidak patut dalam ukuran norma Iman dan
Islam. Tidak ada batasan ketika peluang itu
dinyatakan saat Ramadhan yaitu bagi semua
perbuatan yang dilakukan dengan sengaja
ataupun tidak. Karena itu, di bulan Ramadhan
yang diwajibkan untuk berpuasa dengan
tujuan menjadi takwa, maka jiwa Umat Islam
sesungguhnya “dapat” diperhalus kembali ke
posisi fitri untuk melangkah kembali ke masa
depan dan menjalani kehidupan dengan
cerapan makna yang semakin meningkatkan
kualitas kemanusiaannya (yaitu sebagai
manusia takwa).
Ramadhan, kembali dan selalu akan kembali
selama kita masih hidup. Dan selama kita
hidup pula, Allah SWT selalu menyediakan
waktu ampunan bagi semua manusia,
khususnya Umat Islam, untuk berdekat-
dekatan dengan keintiman khusus yang
disebut Bulan Ramadhan. Jadi, luruskanlah
niat untuk beribadah Ramadhan dengan
totalitas kehambaan di hadapanNya,
tertunduk dan berserah diri padaNya dengan
jujur guna meraih ketakwaan sesungguhnya.
Marhaban Ya Ramadhan, dalam
kesempatan ini, saya sekaligus mohon
maaf lahir dan batin kalau ada salah tulis
atau salah kata.
berkah sebenarnya mempunyai beberapa
nama julukan. Nama-nama itu merefleksikan
makna keberkahan Ramadhan yang dapat
diraih bagi yang menjalaninya dengan benar.
Tulisan ini sebenarnya ulasan dari suatu
artikel yang saya baca setahun yang lalu di
beberapa situs Internet yang menjelaskan
nama-nama lain bulan Ramadhan. Tapi,
meskipun informasinya sudah beredar lama
di masyarakat, tidak ada salahnya juga kan
kalau kita mengingat kembali makna dan
hikmah nama-nama bulan Ramadhan yang
dikenal Umat Islam.
Bagi Umat Islam, pengidentifikasian nama-
nama bulan Ramadhan dengan berbagai
sinonimnya sebenarnya mengandung
maksud. Nama-nama itu diungkapkan dengan
singkat dan tepat sebagai “pengingat cepat
atau penggugah” dan “keywords” tentang
apa yang sebaiknya dilakukan di bulan
tersebut. Selain itu, nama-nama bulan
Ramadhan juga menyatakan berkah dan
maghfirah yang dapat diraih pada kondisi
dan suasana paling baik selama satu tahun ke
belakang dan ke depan (Ramadhan tahun
depan seandainya masih bisa diberi umur).
Demikian banyaknya keutamaan dan peluang
untuk berubah di hadapan Allah SWT di bulan
Ramadhan ini hingga bulan Ramadhan sering
dikiaskan dengan perumpamaan Tamu
Agung yang istimewa. Perumpamaan dan
keistimewaan itu tidak saja menunjukkan
kesakralannya dibandingkan dengan bulan
lain. Namun, mengandung suatu pengertian
yang lebih nyata pada aspek penting adanya
peluang bagi pendidikan manusia secara lahir
dan batin untuk meningkatkan kualitas ruhani
maupun jasmaninya seoanjang hidupnya.
Karena itu, Bulan Ramadhan dapat disebut
sebagai Syahrut Tarbiyah atau Bulan
Pendidikan. Penekanan pada kata Pendidikan
ini menjadi penting karena pada bulan ini kita
dididik langsung oleh Allah SWT. Pendidikan
itu meliputi aktivitas yang sebenarnya
bersifat umum seperti makan pada waktunya
sehingga kesehatan kita terjaga. Atau kita
diajarkan oleh supaya bisa mengatur waktu
dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan,
kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat
dan kapan waktu ibadah. Jadi, pendidikan itu
berhubungan langsung dengan penataan
kembali kehidupan kita di segala bidang.
Menata kehidupan sesungguhnya bagian dari
proses mawas diri atau introspeksi. Jadi,
bulan Ramadhan sesungguhnya bulan terbaik
sebagai masa mawas diri yang intensif.
Proses mawas diri melibatkan evaluasi diri ke
wilayah kedalaman jiwa untuk dinyatakan
kembali dalam keseharian sebagai akhlak dan
perilaku mulai yang membumi. Tentunya
evaluasi ini didasarkan atas pengalaman
hidup sebelumnya yaitu pengalaman atas
semua peristiwa dan perilaku sebelas bulan
sebelumnya sebagai ladang maghfirah yang
sudah disemai dan ditanami pohon benih-
benih perbuatan. Selain itu, evaluasi juga
mencakup taksiran untuk kehidupan di masa
depan, baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Pada masa Rasulullah peperangan fisik
banyak terjadi pada bulan Ramadhan dan itu
semua dimenangkan kaum muslimin.
Peperangan fisik di masa Rasulullah adalah
suatu keharusan yang tidak dapat ditolak
karena situasi dan kondisi yang dihadapi saat
itu. Namun, seperti diungkapkan dalam hadis
Nabi seusai Perang Badar, yang paling berat
adalah peperangan kita untuk berjihad
melawan hawa nafsu sendiri. Karena itu
bulan Ramadhan sering disebut sebagai
Syahrul Jihad dengan fokus pada
pengendalian hawa nafsu diri sendiri (yaitu
Wa Nafsi, simak QS 91:7).
Jihad melawan nafsu adalah ungkapan untuk
menyucikan dan memurnikan nafsu kita
untuk kembali semurni-murninya, yaitu dalam
keadaan fitri. Ungkapan ini sebenarnya
berasal dari firman Allah dalam QS 91:7-10
dan beberapa ayat lainnya yang berbunyi
senada yaitu menyucikan jiwa. Menyucikan
Jiwa adalah syarat yang mengiringi proses
awal penerimaan wahyu yaitu IQRA (simak
QS 96:1-5). Hal ini tentunya erat kaitannya
dengan buah dari pendidikan jiwa secara
intuitif maupun intelektual murni (atau
intelek awal), dengan rasionalitas dan
penyingkapan tabir-tabir gelap jiwa kita yang
sejatinya “Ummi” dan “Fakir” di hadapan
Allah, Rabbul ‘Aalamin (Pencipta, Pemelihara
dan Pendidik semua makhlukNya).
Dari kedua pengertian nama bulan Ramadhan
sebagai Bulan Pendidikan dan Bulan Jihad
Melawan hawa nafsu tersebut, maka
terungkaplah kemudian nama bulan
Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an. Al-Qur’an
pertama sekali diturunkan di bulan Ramadhan
dan pada bulan ini sebaiknya kita banyak
membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an
sehingga kita faham dan mengerti perintah
Allah yang terkandung di dalamnya.
Karenanya, penamaan Syahrul Tarbiyah dan
Syahrul Jihad sebenarnya berhubungan
dengan suatu prakondisi sebelum Nabi
Muhammad SAW menerima al-Qur’an sebagai
Wahyu yang diwahyukan. Dalam konteks ini
maka bulan Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an
sebenarnya merupakan peluang bagi semua
Umat Islam yang bersyahadat dengan Nama
Muhammad untuk mengkaji dan menggali
nilai-nilai spiritual al-Qur’an untuk dinyatakan
menjadi akhlak mulia alias akhlak Muhammad
alias akhlak Qur’ani.
Pendek kata, Bulan Ramadhan sebenarnya
merupakan napak tilas bagi semua Umat Islam
untuk memakrifati perjanjiannya dengan
Allah SWT (syahadatnya) sebagai manusia
yang dilahirkan dan berkembang untuk
menjalani hidup dengan kesadaran kudus.
Napak tilas ini dilakukan lebih intim di Bulan
Ramadhan dimana Umat Islam diharapkan
dapat mengalami keadaan jasmani dan ruhani
yang mirip dengan yang dialami Nabi
Muhammad SAW ketika Al Qur’an turun ke
Bumi. Inilah rahasianya kenapa di bulan ini
ada yang disebut penyendirian total dengan
I’tikaf di masjid pada 10 terakhir bulan
Ramadhan dan ada malam Lailatul Qadar atau
malam 1000 bulan. Karena itu, menurut saya,
Ramadhan dapat disebut juga sebagai bulan
napak tilas Nuzulul Qur’an dan Pemurnian
Pengetahuan Tauhid dengan Aslim dan
Islam yang lurus seperti halnya moyang Nabi
Muhammad SAW dulu yaitu Ibrahim a.s yang
memenggal kepala berhala yang dipuja
kaumnya. Dari sini makna jihad melawan
hawa nafsu pun dapat diungkapkan kembali
sebagai jihad untuk memenggal kepala
berhala-berhala hawa nafsu yang masih
bercokol di dalam hati Umat Islam.
Selain prosesi yang bersifat keruhanian
dengan pendidikan dan penerapan
praktisnya, di bulan Ramadhan kita
merasakan sekali suasana ukhuwah diantara
kaum muslimin terjalin sangat erat dengan
selalu berinteraksi di Masjid/Mushollah untuk
melakkukan sholat berjama’ah. Dan diantara
tetangga juga saling mengantarkan
perbukaan sehingga antara kaum muslimin
terasa sekali kebersamaan dan kesatuan kita.
Syahrrul Ukhuwah adalah dimensi praktek
yang dinyatakan bersamaan dengan
pendidikan jasmani dan ruhani di bulan
Ramadhan.
Seiring dengan semua itu, maka semakin
jelaslah bahwa Bulan Ramadhan disebut juga
sebagai Bulan Ibadah karena pada bulan ini
kita banyak sekali melakukan ibadah-ibadah
sunnah disamping ibadah wajib seperti sholat
sunnat dhuha, rawatib dan tarawih ataupun
qiyamullai serta tadarusan al-Ar’an. Bahkan
dalam pengertian yang lebih luas, dimana
semua makhluk diciptakan Allah sebagai
hambaNya, maka semua aktivitas jasmani dan
ruhani kita di Bulan Ramadhan dilatih untuk
selalu menyatakan kebiasaan-kebiasaan luhur
bahwa semua aktivitas kehidupan kita
sejatinya adalah ibadah kepadaNya. Inilah
dimensi makrifat Ramadhan ketika Umat
Islam memasuki ketakwaan sesungguhnya
sebagai tujuan dari diwajibkannya puasa (QS
2:183).
Untuk menjadi manusia takwa, peningkatan
kualitas kemanusiaan terjadi di wilayah lahir
maupun batin. Artinya dengan pemaknaan,
pemahaman, ilmu dan tindakan yang
seimbang dengan Kehendak Allah. Dengan
hati, akal, dan perbuatan seluruh bagian
tubuh manusia. Puasa Umat Islam di Bulan
Ramadhan, akhirnya memang bukan sekedar
menahan lapar dan haus secara harfiah.
Namun, meliputi seluruh kenyataan diri kita
sebagai makhluk yang berjasad, berjiwa, dan
diberi amanat Ilahi untuk mengungkapkan jati
diri kekhalifahanNya (kemampuannya untuk
menerima amanat Pengetahuan Tauhid).
Karenanya, tolok ukur keberhasilan seseorang
menjalankan puasa Ramadhan sebagai
manusia yang takwa justru akan terlihat
bukan hanya saat puasa dilaksanakan semata.
Hasil puasa Ramadhan yang optimal dengan
kiasan 1000 bulan, justru harus lebih banyak
mempengaruhi perilaku manusia di waktu
sesudah puasa, yaitu 11 bulan ke depan
sampai kematian tiba. Penekanan dengan
sisipan “harus” ini untuk mengingatkan kita
supaya jangan menjadi bodoh dan lalai
kembali seolah-olah Umat Islam hanya
menjadi umat yang baik di bulan Ramadhan
dan menjelang Iedul Fitri saja. Suasana
Ramadhan harus dapat disebarkan kedalam
rentang waktu 11 bulan kedepan setelah
Ramadhan dan Iedul Fitri. Itulah sebenarnya
Ladang Maghfirah yang harus mulai kembali
diolah terus menerus untuk ditanami dengan
amaliah kehidupan untuk menghasilkan buah-
buah kehidupan yang paripurna.
Ladang Maghfirah adalah modal sekaligus
peluang bagi manusia untuk kembali sadar
dan berjalan di jalan Shirathaal Mustaqiim dan
sampai dengan selamat di hadirat Allah SWT.
Peluang ini berlaku bagi semua umat Islam
yang dewasa dan bertanggung jawab, yang
jiwanya selama menjalani kehidupan telah
terkontaminasi oleh berbagai perbuatan yang
tidak patut dalam ukuran norma Iman dan
Islam. Tidak ada batasan ketika peluang itu
dinyatakan saat Ramadhan yaitu bagi semua
perbuatan yang dilakukan dengan sengaja
ataupun tidak. Karena itu, di bulan Ramadhan
yang diwajibkan untuk berpuasa dengan
tujuan menjadi takwa, maka jiwa Umat Islam
sesungguhnya “dapat” diperhalus kembali ke
posisi fitri untuk melangkah kembali ke masa
depan dan menjalani kehidupan dengan
cerapan makna yang semakin meningkatkan
kualitas kemanusiaannya (yaitu sebagai
manusia takwa).
Ramadhan, kembali dan selalu akan kembali
selama kita masih hidup. Dan selama kita
hidup pula, Allah SWT selalu menyediakan
waktu ampunan bagi semua manusia,
khususnya Umat Islam, untuk berdekat-
dekatan dengan keintiman khusus yang
disebut Bulan Ramadhan. Jadi, luruskanlah
niat untuk beribadah Ramadhan dengan
totalitas kehambaan di hadapanNya,
tertunduk dan berserah diri padaNya dengan
jujur guna meraih ketakwaan sesungguhnya.
Marhaban Ya Ramadhan, dalam
kesempatan ini, saya sekaligus mohon
maaf lahir dan batin kalau ada salah tulis
atau salah kata.
Selasa, 02 Agustus 2011
Doa harian bulan ramadhanDoa harian bulan ramadhan
Doa hari – 1
Yaa Allah! Jadikanlah puasaku
sebagai puasa orang-orang yang
benar-benar berpuasa. Dan
ibadah malamku sebagai ibadah
orang-orang yang benar-benar
melakukan ibadah malam. Dan
jagalah aku dan tidunya orang-
orang yang lalai. Hapuskanlah
dosaku ... Wahai Tuhan sekalian
alam!!
Dan ampunilah aku, Wahai
Pengampun para pembuat dosa.
Doa hari – 2
Yaa Allah! Dekatkanlah aku
kepada kenidloan-MU dan
jauhkanlah aku dan kemurkaan
serta balasan-MU. Berilah aku
kemampuan untuk membaca
ayat-ayat-MU dengan rahmat-
MU, Wahai Maha Pengasih dad
semua Pengasih!!
Doa hari – 3
Yaa Allah! Benikanlah aku nizki
akal dan kewaspadaan. dan
jauhkanlah aku dari kebodohan
dan kesesatan. Sediakanlah
bagian untukku dari segala
kebaikan yang KAU turunkan,
demi kemurahan-MU, Wahai dzat
Yang Maha Dermawan dari
semua dermawan!
Doa hari – 4
Yaa Allah! Berikanlah kekuatan
kepadaku, untuk menegakkan
perintah-perintah-MU, dan
berilah aku manisnya bendzikin
mengingat-MU. Berilah aku
kekuatan untuk menunaikan
syukur kepada-MU, dengan
kemuliaan- MU. Dan jagalah aku
dengan penjagaan-MU dan
perlindungan-MU, Wahai dzat
Yang Maha Melihat.
Doa hari – 5
Yaa Allah! Jadikanlah aku
diantara orang-orang yang
memohon ampunan, dan
jadikanlah aku sebagai hamba-
MU yang sholeh dan setia serta
jadikanlah aku diantara Auliya'-
MU yang dekat disisi-MU, dengan
kelembutan-MU, Wahai dzat
Yang Maha Pengasih di antara
semua pengasih.
Doa hari – 6
Yaa Allah! Janganlah Engkau
hinakan aku karena perbuatan
maksiat terhadap-MU, dan
janganlah Engkau pukul aku
dengan cambuk balasan-MU.
Jauhkanlah aku dari hal-hal yang
dapat menyebabkan kemurkaan-
MU, dengan anugerah dan
bantuan-MU, Wahai puncak
keinginan orang-orang yang
berkeinginan!
Doa hari – 7
Yaa Allah! Bantulah aku untuk
melaksanakan puasanya, dan
ibadah malamnya. Jauhkanlah
aku dari kelalaian dan dosa-
dosanya. Dan berikanlah aku
dzikir berupa dzikir mengingat-
MU secara berkesinambungan,
dengan Taufiq- MU, Wahai
Pemberi Petunjuk orang-onang
yang sesat.
Doa hari – 8
Yaa Allah! Berilah aku rizki
berupa kasih sayang tenhadap
anak-anak yatim dan pemberian
makan, serta penyebaran salam,
dan pergaulan dengan orang-
onang mulia, dengan kemuliaan-
MU, Wahai tempat berlindung
bagi orang-onang yang
berharap
Doa hari – 9
Yaa Allah! Sediakanlah untukku
sebagian dri rahmat-MU yang
luas, dan beriknalah aku
petunjuik kepada ajaran- ajaran-
MU yang terang, dan bimbinglah
aku menuju kepada kerelaan-MU
yang penuh dengan kecintaan-
MU, Wahai harapan orang-orang
yang rindu.
Doa hari – 10
Yaa Allah! Jadikanlah aku
diantara orang-orang yang
bertawakkal kepada-Mu, dan
jadikanlah aku diantara orang-
orang yang menang disisi-MU,
dan jadikanlah aku diantara
orang-orang yang dekat kepada-
MU dengan ihsan-MIU, Wahai
Tujuan orang-orang yang
memohon.
Doa hari – 11
Yaa Allah! Tanamkanlah dalam
diniku kecintaan kepada
perbuatan baik, dan
tanamkanlah dalam diniku
kebencian terhadap kemaksiatan
dan kefasikan. Jauhkanlah dariku
kemurkaan-MU dan api neraka
dengan pertolongan-MU, Wahai
Penolong orang-orang yang
meminta pertolongan.
Doa hari – 12
Yaa Allah! Hiasilah diriku dengan
penutup dan kesucian. Tutupilah
diriku dengan pakaian qana'ah
dan kerelaan. Tempatkanlah aku
di atas jalan keadilan dan sikap
tulus. Amankanlah diniku dari
setiap yang aku takuti dengan
penjagaan-MU, Wahai penjaga
orang-orang yang takut.
Doa hari – 13
Yaa Allah! Sucikanlah diriku dari
kekotoran dan kejelekan. Berilah
kesabaran padaku untuk
menenima segala ketentuan. Dan
berilah kemampuan kepadaku
untuk bertaqwa, dan bergaul
dengan orang-orang yang baik
dengan bantuan-MU,Wahai
Dambaan orang-orang miskin.
Doa hari – 14
Yaa Allah! Janganlah.Engkau
hukum aku, karena kekeliruan
yang kulakukan. Dan ampunilah
aku dari kesalahan-kesalahan
dan kebodohan. Janganlah
Engkau jadikan diriku sebagai
sasaran bala' dan malapetaka
dengan kemualian-MU, Wahai
Kemulian kaum Muslimin.
Doa hari – 15
Yaa Allah! Berilah aku rizki
berupa ketaatan orang-orang
yang khusyu'. Dan lapangkanlah
dadaku dengan taubatnya
orang-orang yang menyesal,
dengan keamanan-MU, Wahai
Keamanan untuk orang-orang
yang takut.
Doa hari - 16
Yaa Allah! Berilah aku
kemampuan untuk hidup
sebagaimana kehidupan orang-
orang yang baik. Dan jauhkanlah
aku dari kehidupan bersama
orang-orang yang jahat. Dan
naungilah aku dengan rahmat-
MU hingga sampai kepada alam
akhirat. Demi ketuhanan-MU
Wahai Tuhan seru sekalian alam.
Doa hari – 17
Yaa Allah! Tunjukkanlah aku
kepada amal kebajikan dan
penuhilah hajat serta cita-cita-
ku. Wahai Yang Maha
Mengetahui keperluan, tanpa
pengungkapan permohonan.
Wahai Yang Maha Mengetahui
segala yang ada didalam hati
seluruh isi alam. Sholawat atas
Mohammad dan keluarganya
yang suci.
Doa hari – 18
Yaa Allah! Sedarkanlah aku akan
berkah-berkah yang terdapat di
saat saharnya. Dan sinarilah
hatiku dengan terang
cahayanya dan bimbinglah aku
dan seluruh anggota tubuhku
untuk dapat mengikufi ajaran-
ajarannya, Demi cahaya-Mu
Wahai Penerang hati para arifin.
Doa hari – 19
Yaa Allah! Penuhilah bagianku
dengan berkah-berkahnya, dan
mudahkanlah jalanku menuju
kebaikan-kebaikannya.
Janganlah Kau jauhkan aku dari
ketertedmaan kebaikan-
kebaikannya, Wahai Pembed
petunjuk kepada kebenaran
yang terang.
Doa hari – 20
Yaa Allah! Bukakanlah bagiku
pintu-pintu sorga dan
tutupkanlah bagiku pintu-pintu
neraka, dan berikanlah
kemampuan padaku untuk
membaca AI-Quran Wahai
Penurun ketenangan di dalam
hati orang-orang Mu'min.
Doa hari – 21
Yaa Allah! benilah aku petunjuk
menuju kepada kenidloan- MU.
Dan janganlah Engkau bed jalan
kepada setan untuk
menguasaiku. Jadikanlah sorga
bagiku sebagai tempat tinggal
dan peristirahatan, Wahai
Pemenuh kepenluan orang-
orang yang meminta.
Doa hari – 22
Yaa Allah! Bukakanlah bagiku
pintu-pintu karunia-MU,
turunkan untukku berkah-
berkahmu. Berilah kemampuan
untukku kepada penyebab-
penyebab keridloan-MU, dan
tempatkanlah aku di dalam
sorga-MU yang luas, Wahai
Penjawab doa orang-orang yang
dalam kesempitan.
Doa hari – 23
Yaa Allah! Sucikanlah aku dari
dosa-dosa, dan bersihkanlah
diriku dari segala aib.
Tanamkanlah ketaqwaan di
dalam hatiku, Wahai Penghapus
kesalahan onang-orang yang
berdosa.
Doa hari – 24
Yaa Allah! Aku memohon
kepada-MU hal-hal yang
mendatangkan keridloan-MU,
dan aku berlindung dengan- MU
dan hal-hal yang mendatangkan
kemarahan-MU, dan aku
memohon kepada-MU
kemampuan untuk mentaati-MU
serta menghindani kemaksiatan
tenhadap-MU, Wahai Pemberi
para peminta.
Doa hari – 25
Yaa Allah! Jadikanlah aku
orang-.orang yang mencintai
Auliya-MU dan memusuhi
musuh-musuh MU. Jadikanlah
aku pengikut sunnah-sunnah
penutup Nabi-MU, Wahai Penjaga
hati para Nabi.
Doa hari – 26
Yaa Allah! Jadikanlah usahaku
sebagai usaha yang disyukuri,
dan dosa-dosaku diampuni, amal
perbuatan ku diterima, dan
seluruh aibku ditutupi, Wahai
Maha Pendengar dan semua
yang mendengar.
Doa hari – 27
Yaa Allah! Rizkikanlah kepadaku
keutamaan Lailatul Qadr, dan
ubahlah perkara-perkaraku yang
sulit menjadi mudah. Terimalah
permintaan maafku, dan
hapuskanlah dosa dan
keslahanku, Wahai Yang Maha
Penyayang terhadap hamba-
hambanya yang sholeh.
Doa hari – 28
Yaa Allah! Penuhkanlah hidupku
dengan amalan-amalan Sunnah,
dan muliakanlah aku dengan
terkabulnya semua permintaan.
Dekatkanlah perantaraanku
kepada-MU diantara semua
perantara, Wahai Yang tidak
tersibukkan oleh permintaan
orang-orang yang meminta.
Doa hari – 29
Yaa Allah! Liputilah aku dengan
rabmat dan benikanlah
kepadaku Taufiq dan penjagaan.
Sucikanlah hatiku dan noda-
noda fitnah wahai pengasih
terhadap hamb- hambaNYA
yang Mu'min.
Doa hari – 30
Yaa Allah! Jadikanlah puasaku
disertai dengan syukur dan
penerima di atas jalan keridloan-
MU dan keridloan Rasul. Cabang-
cabangnya kokoh dan kuat
berkat pokok-pokoknya, Demi
kenabian Mohammad dan
keluarganya yang suci, dan
segala puji bagi Allah Tuhan
sekalian alam.
Yaa Allah! Jadikanlah puasaku
sebagai puasa orang-orang yang
benar-benar berpuasa. Dan
ibadah malamku sebagai ibadah
orang-orang yang benar-benar
melakukan ibadah malam. Dan
jagalah aku dan tidunya orang-
orang yang lalai. Hapuskanlah
dosaku ... Wahai Tuhan sekalian
alam!!
Dan ampunilah aku, Wahai
Pengampun para pembuat dosa.
Doa hari – 2
Yaa Allah! Dekatkanlah aku
kepada kenidloan-MU dan
jauhkanlah aku dan kemurkaan
serta balasan-MU. Berilah aku
kemampuan untuk membaca
ayat-ayat-MU dengan rahmat-
MU, Wahai Maha Pengasih dad
semua Pengasih!!
Doa hari – 3
Yaa Allah! Benikanlah aku nizki
akal dan kewaspadaan. dan
jauhkanlah aku dari kebodohan
dan kesesatan. Sediakanlah
bagian untukku dari segala
kebaikan yang KAU turunkan,
demi kemurahan-MU, Wahai dzat
Yang Maha Dermawan dari
semua dermawan!
Doa hari – 4
Yaa Allah! Berikanlah kekuatan
kepadaku, untuk menegakkan
perintah-perintah-MU, dan
berilah aku manisnya bendzikin
mengingat-MU. Berilah aku
kekuatan untuk menunaikan
syukur kepada-MU, dengan
kemuliaan- MU. Dan jagalah aku
dengan penjagaan-MU dan
perlindungan-MU, Wahai dzat
Yang Maha Melihat.
Doa hari – 5
Yaa Allah! Jadikanlah aku
diantara orang-orang yang
memohon ampunan, dan
jadikanlah aku sebagai hamba-
MU yang sholeh dan setia serta
jadikanlah aku diantara Auliya'-
MU yang dekat disisi-MU, dengan
kelembutan-MU, Wahai dzat
Yang Maha Pengasih di antara
semua pengasih.
Doa hari – 6
Yaa Allah! Janganlah Engkau
hinakan aku karena perbuatan
maksiat terhadap-MU, dan
janganlah Engkau pukul aku
dengan cambuk balasan-MU.
Jauhkanlah aku dari hal-hal yang
dapat menyebabkan kemurkaan-
MU, dengan anugerah dan
bantuan-MU, Wahai puncak
keinginan orang-orang yang
berkeinginan!
Doa hari – 7
Yaa Allah! Bantulah aku untuk
melaksanakan puasanya, dan
ibadah malamnya. Jauhkanlah
aku dari kelalaian dan dosa-
dosanya. Dan berikanlah aku
dzikir berupa dzikir mengingat-
MU secara berkesinambungan,
dengan Taufiq- MU, Wahai
Pemberi Petunjuk orang-onang
yang sesat.
Doa hari – 8
Yaa Allah! Berilah aku rizki
berupa kasih sayang tenhadap
anak-anak yatim dan pemberian
makan, serta penyebaran salam,
dan pergaulan dengan orang-
onang mulia, dengan kemuliaan-
MU, Wahai tempat berlindung
bagi orang-onang yang
berharap
Doa hari – 9
Yaa Allah! Sediakanlah untukku
sebagian dri rahmat-MU yang
luas, dan beriknalah aku
petunjuik kepada ajaran- ajaran-
MU yang terang, dan bimbinglah
aku menuju kepada kerelaan-MU
yang penuh dengan kecintaan-
MU, Wahai harapan orang-orang
yang rindu.
Doa hari – 10
Yaa Allah! Jadikanlah aku
diantara orang-orang yang
bertawakkal kepada-Mu, dan
jadikanlah aku diantara orang-
orang yang menang disisi-MU,
dan jadikanlah aku diantara
orang-orang yang dekat kepada-
MU dengan ihsan-MIU, Wahai
Tujuan orang-orang yang
memohon.
Doa hari – 11
Yaa Allah! Tanamkanlah dalam
diniku kecintaan kepada
perbuatan baik, dan
tanamkanlah dalam diniku
kebencian terhadap kemaksiatan
dan kefasikan. Jauhkanlah dariku
kemurkaan-MU dan api neraka
dengan pertolongan-MU, Wahai
Penolong orang-orang yang
meminta pertolongan.
Doa hari – 12
Yaa Allah! Hiasilah diriku dengan
penutup dan kesucian. Tutupilah
diriku dengan pakaian qana'ah
dan kerelaan. Tempatkanlah aku
di atas jalan keadilan dan sikap
tulus. Amankanlah diniku dari
setiap yang aku takuti dengan
penjagaan-MU, Wahai penjaga
orang-orang yang takut.
Doa hari – 13
Yaa Allah! Sucikanlah diriku dari
kekotoran dan kejelekan. Berilah
kesabaran padaku untuk
menenima segala ketentuan. Dan
berilah kemampuan kepadaku
untuk bertaqwa, dan bergaul
dengan orang-orang yang baik
dengan bantuan-MU,Wahai
Dambaan orang-orang miskin.
Doa hari – 14
Yaa Allah! Janganlah.Engkau
hukum aku, karena kekeliruan
yang kulakukan. Dan ampunilah
aku dari kesalahan-kesalahan
dan kebodohan. Janganlah
Engkau jadikan diriku sebagai
sasaran bala' dan malapetaka
dengan kemualian-MU, Wahai
Kemulian kaum Muslimin.
Doa hari – 15
Yaa Allah! Berilah aku rizki
berupa ketaatan orang-orang
yang khusyu'. Dan lapangkanlah
dadaku dengan taubatnya
orang-orang yang menyesal,
dengan keamanan-MU, Wahai
Keamanan untuk orang-orang
yang takut.
Doa hari - 16
Yaa Allah! Berilah aku
kemampuan untuk hidup
sebagaimana kehidupan orang-
orang yang baik. Dan jauhkanlah
aku dari kehidupan bersama
orang-orang yang jahat. Dan
naungilah aku dengan rahmat-
MU hingga sampai kepada alam
akhirat. Demi ketuhanan-MU
Wahai Tuhan seru sekalian alam.
Doa hari – 17
Yaa Allah! Tunjukkanlah aku
kepada amal kebajikan dan
penuhilah hajat serta cita-cita-
ku. Wahai Yang Maha
Mengetahui keperluan, tanpa
pengungkapan permohonan.
Wahai Yang Maha Mengetahui
segala yang ada didalam hati
seluruh isi alam. Sholawat atas
Mohammad dan keluarganya
yang suci.
Doa hari – 18
Yaa Allah! Sedarkanlah aku akan
berkah-berkah yang terdapat di
saat saharnya. Dan sinarilah
hatiku dengan terang
cahayanya dan bimbinglah aku
dan seluruh anggota tubuhku
untuk dapat mengikufi ajaran-
ajarannya, Demi cahaya-Mu
Wahai Penerang hati para arifin.
Doa hari – 19
Yaa Allah! Penuhilah bagianku
dengan berkah-berkahnya, dan
mudahkanlah jalanku menuju
kebaikan-kebaikannya.
Janganlah Kau jauhkan aku dari
ketertedmaan kebaikan-
kebaikannya, Wahai Pembed
petunjuk kepada kebenaran
yang terang.
Doa hari – 20
Yaa Allah! Bukakanlah bagiku
pintu-pintu sorga dan
tutupkanlah bagiku pintu-pintu
neraka, dan berikanlah
kemampuan padaku untuk
membaca AI-Quran Wahai
Penurun ketenangan di dalam
hati orang-orang Mu'min.
Doa hari – 21
Yaa Allah! benilah aku petunjuk
menuju kepada kenidloan- MU.
Dan janganlah Engkau bed jalan
kepada setan untuk
menguasaiku. Jadikanlah sorga
bagiku sebagai tempat tinggal
dan peristirahatan, Wahai
Pemenuh kepenluan orang-
orang yang meminta.
Doa hari – 22
Yaa Allah! Bukakanlah bagiku
pintu-pintu karunia-MU,
turunkan untukku berkah-
berkahmu. Berilah kemampuan
untukku kepada penyebab-
penyebab keridloan-MU, dan
tempatkanlah aku di dalam
sorga-MU yang luas, Wahai
Penjawab doa orang-orang yang
dalam kesempitan.
Doa hari – 23
Yaa Allah! Sucikanlah aku dari
dosa-dosa, dan bersihkanlah
diriku dari segala aib.
Tanamkanlah ketaqwaan di
dalam hatiku, Wahai Penghapus
kesalahan onang-orang yang
berdosa.
Doa hari – 24
Yaa Allah! Aku memohon
kepada-MU hal-hal yang
mendatangkan keridloan-MU,
dan aku berlindung dengan- MU
dan hal-hal yang mendatangkan
kemarahan-MU, dan aku
memohon kepada-MU
kemampuan untuk mentaati-MU
serta menghindani kemaksiatan
tenhadap-MU, Wahai Pemberi
para peminta.
Doa hari – 25
Yaa Allah! Jadikanlah aku
orang-.orang yang mencintai
Auliya-MU dan memusuhi
musuh-musuh MU. Jadikanlah
aku pengikut sunnah-sunnah
penutup Nabi-MU, Wahai Penjaga
hati para Nabi.
Doa hari – 26
Yaa Allah! Jadikanlah usahaku
sebagai usaha yang disyukuri,
dan dosa-dosaku diampuni, amal
perbuatan ku diterima, dan
seluruh aibku ditutupi, Wahai
Maha Pendengar dan semua
yang mendengar.
Doa hari – 27
Yaa Allah! Rizkikanlah kepadaku
keutamaan Lailatul Qadr, dan
ubahlah perkara-perkaraku yang
sulit menjadi mudah. Terimalah
permintaan maafku, dan
hapuskanlah dosa dan
keslahanku, Wahai Yang Maha
Penyayang terhadap hamba-
hambanya yang sholeh.
Doa hari – 28
Yaa Allah! Penuhkanlah hidupku
dengan amalan-amalan Sunnah,
dan muliakanlah aku dengan
terkabulnya semua permintaan.
Dekatkanlah perantaraanku
kepada-MU diantara semua
perantara, Wahai Yang tidak
tersibukkan oleh permintaan
orang-orang yang meminta.
Doa hari – 29
Yaa Allah! Liputilah aku dengan
rabmat dan benikanlah
kepadaku Taufiq dan penjagaan.
Sucikanlah hatiku dan noda-
noda fitnah wahai pengasih
terhadap hamb- hambaNYA
yang Mu'min.
Doa hari – 30
Yaa Allah! Jadikanlah puasaku
disertai dengan syukur dan
penerima di atas jalan keridloan-
MU dan keridloan Rasul. Cabang-
cabangnya kokoh dan kuat
berkat pokok-pokoknya, Demi
kenabian Mohammad dan
keluarganya yang suci, dan
segala puji bagi Allah Tuhan
sekalian alam.
Jumat, 08 Juli 2011
Mukjizat adzan
Adzan adalah media luar biasa
untuk mengumandangkan
tauhid terhadap Maha yang
Maha Kuasa dan risalah
(kenabian) Nabi Muhammad
saw. Adzan juga merupakan
panggilan shalat kepada umat
Islam, yang terus bergema di
seluruh dunia lima kali setiap
hari.
Betapa mengagumkan suara
adzan itu, dan bagi umat Islam
di seluruh dunia, adzan
merupakan sebuah fakta yang
telah mapan. Indonesia
misalnya, sebagai sebuah
negara terdiri dari ribuan pulau
dan dengan penduduk muslim
terbesar di dunia.
Begitu fajar fajar menyingsing
di sisi timur Sulawesi, di sekitar
5:30 waktu setempat, maka
adzan subuh mulai
dikumandangkan. Ribuan
Muadzin di kawasan timur
Indonesia mulai
mengumandangkan tauhid
kepada yang Maha Kuasa, dan
risalah Muhammad saw.
Proses itu terus berlangsung
dan bergerak ke arah barat
kepulauan Indonesia.
Perbedaan waktu antara timur
dan barat pulau-pulau di
Indonesia adalah satu jam. Oleh
karena itu, satu jam setelah
adzan selesai di Sulawesi, maka
adzan segera bergema di
Jakarta, disusul pula sumatra.
Dan adzan belum berakhir di
Indonesia, maka ia sudah
dimulai di Malaysia. Burma
adalah di baris berikutnya, dan
dalam waktu beberapa jam dari
Jakarta, maka adzan mencapai
Dacca, ibukota Bangladesh. Dan
begitu adzan berakhir di
Bangladesh, maka ia ia telah
dikumandangkan di barat India,
dari Kalkuta ke Srinagar.
Kemudian terus menuju
Bombay dan seluruh kawasan
India.
Srinagar dan Sialkot (sebuah
kota di Pakistan utara) memiliki
waktu adzan yang sama.
Perbedaan waktu antara
Sialkot, Kota, Karachi dan
Gowadar (kota di Baluchistan,
sebuah provinsi di Pakistan)
adalah empat puluh menit, dan
dalam waktu ini, (Dawn) adzan
Fajar telah terdengar di
Pakistan. Sebelum berakhir di
sana, ia telah dimulai di
Afghanistan dan Muscat.
Perbedaan waktu antara
Muscat dan Baghdad adalah
satu jam. Adzan kembali
terdengar selama satu jam di
wilayah Hijaz al-Muqaddas
(Makkah dan Madinah), Yaman,
Uni Emirat Arab, Kuwait dan
Irak.
Perbedaan waktu antara
Bagdad dan Iskandariyah di
Mesir adalah satu jam. Adzan
terus bergema di Siria, Mesir,
Somalia dan Sudan selama jam
tersebut. Iskandariyah dan
Istanbul terletak di bujur
geografis yang sama.
Perbedaan waktu antara timur
dan barat Turki adalah satu
setengah jam, dan pada saat ini
seruan shalat dikumandangkan.
Iskandariyah dan Tripoli
(ibukota Libya) terletak di
lokasi waktu yang sama. Proses
panggilan Adzan sehingga
terus berlangsung melalui
seluruh kawasan Afrika. Oleh
karena itu, kumandang keesaan
Allah dan kenabian Muhammad
saw yang dimulai dari bagian
timur pulau Indonesia itu tiba
di pantai timur Samudera
Atlantik setelah sembilan
setengah jam.
Sebelum Adzan mencapai
pantai Atlantik, kumandang
adzan Zhuhur telah dimulai di
kawasan timur Indonesia, dan
sebelum mencapai Dacca, adzan
Ashar telah dimulai. Dan begitu
adzan mencapai Jakarta setelah
kira-kira satu setengah jam
kemudian, maka waktu
Maghrib menyusul. Dan tidak
lama setelah waktu Maghrib
mencapai Sumatera, maka
waktu adzan Isya telah dimulai
di Sulawesi! Bila Muadzin di
Indonesia mengumandangkan
adzan Fajar, maka muadzin di
Afrika mengumandangkan
adzan untuk Isya.
Jika kita merenungkan
fenomena ini dengan serius
dan seksama, maka kita
menyimpulkan fakta yang luar
biasa, yaitu: Setiap saat ribuan
muadzin —jika bukan ratusan
ribu— di seluruh dunia
mengumandangkan keesaan
Allah yang Maha Kuasa dan
kenabian Nabi Muhammad saw
di muka bumi ini! Insya’allah,
adzan (panggilan universal)
lima kali sehari ini akan terus
berlangsung sampai hari
kiamat, Amin.
Di dalam kitab Mazmur 149: 1-9
disebutkan,
(1) Haleluya! Nyanyikanlah bagi
Tuhan nyanyian baru! Pujilah
Dia dalam jemaah orang-orang
saleh.
(2) Biarlah Israel bersukacita
atas Yang menjadikannya,
biarlah bani Sion bersorak-
sorak atas raja mereka!
(3) Biarlah mereka memuji-muji
nama-Nya dengan tari-tarian,
biarlah mereka bermazmur
kepada-Nya dengan rebana dan
kecapi!
(4) Sebab Tuhan berkenan
kepada umat-Nya, Ia
memahkotai orang-orang yang
rendah hati dengan
keselamatan.
(5) Biarlah orang-orang saleh
beria-ria dalam kemuliaan,
biarlah mereka bersorak-sorai
di atas tempat tidur mereka!
(6) Biarlah pujian pengagungan
Allah ada dalam kerongkongan
mereka, dan pedang bermata
dua di tangan mereka,
(7) untuk melakukan
pembalasan terhadap bangsa-
bangsa, penyiksaan-penyiksaan
terhadap suku-suku bangsa,
(8) untuk membelenggu raja-
raja mereka dengan rantai, dan
orang-orang mereka yang
mulia dengan tali-tali besi,
(9) untuk melaksanakan
terhadap mereka hukuman
seperti yang tertulis. Itulah
semarak bagi semua orang
yang dikasihi-Nya. Haleluya!
Dengan membaca nubuwat ini
secara seksama, maka kita
mendapat kesan bahwa Nabi
yang dijanjikan dan
digambarkan sebagai raja itu
adalah Nabi Muhammad SAW
dan para pengikutnya. Allah
berfirman di dalam al-Qur’an:
‘(Yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata), ‘Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa
neraka.’ (Ali Imran: 191)
Perluasan wilayah Islam
dengan pedang ‘bermata dua’
sebagaimana disebut dalam
nubuat di atas, dimulai dari
penaklukan Makkah pada masa
Nabi Muhammad (SAW), lalu
disusul dengan jatuhnya Syria,
Byzantine, Persia, Mesir,
Konstantinopel, dan banyak
negara lainnya, dimana
kekuasaan dan kejayaan pada
waktu itu ada di tangan para
pengikut Muhammad SAW itu,
bukan merupakan sejarah yang
asing. Sementara Yahudi dan
Kristen tidak dapat mengklaim
sebagai pemilik nubuat
tersebut, terutama mengenai
Isa al-Masih.
untuk mengumandangkan
tauhid terhadap Maha yang
Maha Kuasa dan risalah
(kenabian) Nabi Muhammad
saw. Adzan juga merupakan
panggilan shalat kepada umat
Islam, yang terus bergema di
seluruh dunia lima kali setiap
hari.
Betapa mengagumkan suara
adzan itu, dan bagi umat Islam
di seluruh dunia, adzan
merupakan sebuah fakta yang
telah mapan. Indonesia
misalnya, sebagai sebuah
negara terdiri dari ribuan pulau
dan dengan penduduk muslim
terbesar di dunia.
Begitu fajar fajar menyingsing
di sisi timur Sulawesi, di sekitar
5:30 waktu setempat, maka
adzan subuh mulai
dikumandangkan. Ribuan
Muadzin di kawasan timur
Indonesia mulai
mengumandangkan tauhid
kepada yang Maha Kuasa, dan
risalah Muhammad saw.
Proses itu terus berlangsung
dan bergerak ke arah barat
kepulauan Indonesia.
Perbedaan waktu antara timur
dan barat pulau-pulau di
Indonesia adalah satu jam. Oleh
karena itu, satu jam setelah
adzan selesai di Sulawesi, maka
adzan segera bergema di
Jakarta, disusul pula sumatra.
Dan adzan belum berakhir di
Indonesia, maka ia sudah
dimulai di Malaysia. Burma
adalah di baris berikutnya, dan
dalam waktu beberapa jam dari
Jakarta, maka adzan mencapai
Dacca, ibukota Bangladesh. Dan
begitu adzan berakhir di
Bangladesh, maka ia ia telah
dikumandangkan di barat India,
dari Kalkuta ke Srinagar.
Kemudian terus menuju
Bombay dan seluruh kawasan
India.
Srinagar dan Sialkot (sebuah
kota di Pakistan utara) memiliki
waktu adzan yang sama.
Perbedaan waktu antara
Sialkot, Kota, Karachi dan
Gowadar (kota di Baluchistan,
sebuah provinsi di Pakistan)
adalah empat puluh menit, dan
dalam waktu ini, (Dawn) adzan
Fajar telah terdengar di
Pakistan. Sebelum berakhir di
sana, ia telah dimulai di
Afghanistan dan Muscat.
Perbedaan waktu antara
Muscat dan Baghdad adalah
satu jam. Adzan kembali
terdengar selama satu jam di
wilayah Hijaz al-Muqaddas
(Makkah dan Madinah), Yaman,
Uni Emirat Arab, Kuwait dan
Irak.
Perbedaan waktu antara
Bagdad dan Iskandariyah di
Mesir adalah satu jam. Adzan
terus bergema di Siria, Mesir,
Somalia dan Sudan selama jam
tersebut. Iskandariyah dan
Istanbul terletak di bujur
geografis yang sama.
Perbedaan waktu antara timur
dan barat Turki adalah satu
setengah jam, dan pada saat ini
seruan shalat dikumandangkan.
Iskandariyah dan Tripoli
(ibukota Libya) terletak di
lokasi waktu yang sama. Proses
panggilan Adzan sehingga
terus berlangsung melalui
seluruh kawasan Afrika. Oleh
karena itu, kumandang keesaan
Allah dan kenabian Muhammad
saw yang dimulai dari bagian
timur pulau Indonesia itu tiba
di pantai timur Samudera
Atlantik setelah sembilan
setengah jam.
Sebelum Adzan mencapai
pantai Atlantik, kumandang
adzan Zhuhur telah dimulai di
kawasan timur Indonesia, dan
sebelum mencapai Dacca, adzan
Ashar telah dimulai. Dan begitu
adzan mencapai Jakarta setelah
kira-kira satu setengah jam
kemudian, maka waktu
Maghrib menyusul. Dan tidak
lama setelah waktu Maghrib
mencapai Sumatera, maka
waktu adzan Isya telah dimulai
di Sulawesi! Bila Muadzin di
Indonesia mengumandangkan
adzan Fajar, maka muadzin di
Afrika mengumandangkan
adzan untuk Isya.
Jika kita merenungkan
fenomena ini dengan serius
dan seksama, maka kita
menyimpulkan fakta yang luar
biasa, yaitu: Setiap saat ribuan
muadzin —jika bukan ratusan
ribu— di seluruh dunia
mengumandangkan keesaan
Allah yang Maha Kuasa dan
kenabian Nabi Muhammad saw
di muka bumi ini! Insya’allah,
adzan (panggilan universal)
lima kali sehari ini akan terus
berlangsung sampai hari
kiamat, Amin.
Di dalam kitab Mazmur 149: 1-9
disebutkan,
(1) Haleluya! Nyanyikanlah bagi
Tuhan nyanyian baru! Pujilah
Dia dalam jemaah orang-orang
saleh.
(2) Biarlah Israel bersukacita
atas Yang menjadikannya,
biarlah bani Sion bersorak-
sorak atas raja mereka!
(3) Biarlah mereka memuji-muji
nama-Nya dengan tari-tarian,
biarlah mereka bermazmur
kepada-Nya dengan rebana dan
kecapi!
(4) Sebab Tuhan berkenan
kepada umat-Nya, Ia
memahkotai orang-orang yang
rendah hati dengan
keselamatan.
(5) Biarlah orang-orang saleh
beria-ria dalam kemuliaan,
biarlah mereka bersorak-sorai
di atas tempat tidur mereka!
(6) Biarlah pujian pengagungan
Allah ada dalam kerongkongan
mereka, dan pedang bermata
dua di tangan mereka,
(7) untuk melakukan
pembalasan terhadap bangsa-
bangsa, penyiksaan-penyiksaan
terhadap suku-suku bangsa,
(8) untuk membelenggu raja-
raja mereka dengan rantai, dan
orang-orang mereka yang
mulia dengan tali-tali besi,
(9) untuk melaksanakan
terhadap mereka hukuman
seperti yang tertulis. Itulah
semarak bagi semua orang
yang dikasihi-Nya. Haleluya!
Dengan membaca nubuwat ini
secara seksama, maka kita
mendapat kesan bahwa Nabi
yang dijanjikan dan
digambarkan sebagai raja itu
adalah Nabi Muhammad SAW
dan para pengikutnya. Allah
berfirman di dalam al-Qur’an:
‘(Yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata), ‘Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa
neraka.’ (Ali Imran: 191)
Perluasan wilayah Islam
dengan pedang ‘bermata dua’
sebagaimana disebut dalam
nubuat di atas, dimulai dari
penaklukan Makkah pada masa
Nabi Muhammad (SAW), lalu
disusul dengan jatuhnya Syria,
Byzantine, Persia, Mesir,
Konstantinopel, dan banyak
negara lainnya, dimana
kekuasaan dan kejayaan pada
waktu itu ada di tangan para
pengikut Muhammad SAW itu,
bukan merupakan sejarah yang
asing. Sementara Yahudi dan
Kristen tidak dapat mengklaim
sebagai pemilik nubuat
tersebut, terutama mengenai
Isa al-Masih.
Senin, 20 Juni 2011
Puasa Ramadhan dan Hikmahnya
Walaupun keduanya berarti
“ selamat datang” tetapi
penggunaannya berbeda. Para
ulama tidak menggunakan ahlan
wa sahlan untuk menyambut
datangnya bulan Ramadhan,
melainkan “marhaban ya
Ramadhan”.
Ahlan terambil dari kata ahl yang
berarti “keluarga”, sedangkan
sahlan berasal dari kata sahl
yang berarti mudah. Juga berarti
“ dataran rendah” karena mudah
dilalui, tidak seperti “jalan
mendaki”. Ahlan wa sahlan,
adalah ungkapan selamat
datang, yang dicelahnya
terdapat kalimat tersirat yaitu,
“( Anda berada di tengah)
keluarga dan (melangkahkan
kaki di) dataran rendah yang
mudah. ”
Marhaban terambil dari kata
rahb yang berarti “luas” atau
“lapang”, sehingga marhaban
menggambarkan bahwa tamu
disambut dan diterima dengan
dada lapang, penuh
kegembiraan serta dipersiapkan
baginya ruang yang luas untuk
melakukan apa saja yang
diinginkannya. Dari akar kata
yang sama dengan “marhaban”,
terbentuk kata rahbat yang
antara lain berarti “ruangan luas
untuk kendaraan, untuk
memperoleh perbaikan atau
kebutuhan pengendara guna
melanjutkan perjalanan. ”
Marhaban ya Ramadhan berarti
“ Selamat datang Ramadhan”
mengandung arti bahwa kita
menyambutnya dengan lapang
dada, penuh kegembiraan; tidak
dengan menggerutu dan
menganggap kehadirannya
“ mengganggu ketenangan” atau
suasana nyaman kita.
Marhaban ya Ramadhan, kita
ucapkan untuk bulan suci itu,
karena kita mengharapkan agar
jiwa raga kita diasah dan diasuh
guna melanjutkan perjalanan
menuju Allah SWT
Ada gunung yang tinggi yang
harus ditelusuri guna menemui-
Nya, itulah nafsu. Di gunung itu
ada lereng yang curam, belukar
yang lebat, bahkan banyak
perampok yang mengancam,
serta iblis yang merayu, agar
perjalanan tidak melanjutkan.
Bertambah tinggi gunung didaki,
bertambah hebat ancaman dan
rayuan, semakin curam dan
ganas pula perjalanan. Tetapi,
bila tekad tetap membaja,
sebentar lagi akan tampak
cahaya benderang, dan saat itu,
akan tampak dengan jelas
rambu-rambu jalan, tampak
tempat-tempat indah untuk
berteduh, serta telaga-telaga
jernih untuk melepaskan dahaga.
Dan bila perjalanan dilanjutkan
akan ditemukan kendaraan Ar-
Rahman untuk mengantar sang
musafir bertemu dengan
kekasihnya, Allah SWT Demikian
kurang lebih perjalanan itu
dilukiskan dalam buku Madarij
As-Salikin.
Tentu kita perlu mempersiapkan
bekal guna menelusuri jalan itu.
Tahukah Anda apakah bekal itu?
Benih-benih kebajikan yang
harus kita tabur di lahan jiwa
kita. Tekad yang membaja untuk
memerangi nafsu, agar kita
mampu menghidupkan malam
Ramadhan dengan shalat dan
tadarus, serta siangnya dengan
ibadah kepada Allah melalui
pengabdian untuk agama,
bangsa dan negara. Semoga kita
berhasil, dan untuk itu mari kita
buka lembaran Al-Quran
mempelajari bagaimana
tuntunannya.
PUASA MENURUT AL-QURAN
Al-Quran menggunakan kata
shiyam sebanyak delapan kali,
kesemuanya dalam arti puasa
menurut pengertian hukum
syariat. Kata ini juga terdapat
masing-masing sekali dalam
bentuk perintah berpuasa di
bulan Ramadhan, sekali dalam
bentuk kata kerja yang
menyatakan bahwa “berpuasa
adalah baik untuk kamu”, dan
sekali menunjuk kepada pelaku-
pelaku puasa pria dan wanita,
yaitu ash-shaimin wash-shaimat.
Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa
(shiyamu)sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu
bertakwa, (QS. Al-Baqarah [2] :
ayat 183)
Kata-kata yang beraneka bentuk
itu, kesemuanya terambil dari
akar kata yang sama yakni sha-
wa-ma yang dari segi bahasa
maknanya berkisar pada
“ menahan” dan “berhenti” atau
“tidak bergerak”. Manusia yang
berupaya menahan diri dari satu
aktivitas –apa pun aktivitas itu–
dinamai shaim (berpuasa).
Pengertian kebahasaan ini,
dipersempit maknanya oleh
hukum syariat, sehingga shiyam
hanya digunakan untuk
“ menahan diri dari makan,
minum, dan upaya
mengeluarkan sperma dari
terbitnya fajar hingga
terbenamnya matahari ”.
Kaum sufi, merujuk ke hakikat
dan tujuan puasa,
menambahkan kegiatan yang
harus dibatasi selama melakukan
puasa. Ini mencakup
pembatasan atas seluruh
anggota tubuh bahkan hati dan
pikiran dari melakukan segala
macam dosa.
Betapa pun, shiyam atau shaum
– bagi manusia– pada hakikatnya
adalah menahan atau
mengendalikan diri. Karena itu
pula puasa dipersamakan
dengan sikap sabar, baik dari
segi pengertian bahasa
(keduanya berarti menahan diri)
maupun esensi kesabaran dan
puasa.
Hadis qudsi yang menyatakan
antara lain bahwa, “Puasa
untuk-Ku, dan Aku yang
memberinya ganjaran ”
dipersamakan oleh banyak
ulama dengan firman-Nya dalam
surat Az-Zumar (39): 10.
Sesungguhnya hanya orang-
orang yang bersabarlah yang
disempurnakan pahalanya tanpa
batas. (QS. Az-Zumar (39): 10)
Orang sabar yang dimaksud di
sini adalah orang yang berpuasa.
Ada beberapa macam puasa
dalam pengertian syariat/hukum
sebagaimana disinggung di atas.
1. Puasa wajib sebutan
Ramadhan.
2. Puasa kaffarat, akibat
pelanggaran, atau semacamnya.
3. Puasa sunnah.
Tulisan ini akan membatasi
uraian pada hal-hal yang
berkisar pada puasa bulan
Ramadhan.
PUASA RAMADHAN
Uraian Al-Quran tentang puasa
Ramadhan, ditemukan dalam
surat Al-Baqarah (2): 183, 184,
185, dan 187. Ini berarti bahwa
puasa Ramadhan baru
diwajibkan setelah Nabi saw
tiba di Madinah, karena ulama Al-
Quran sepakat bahwa surat Al-
Baqarah turun di Madinah. Para
sejarawan menyatakan bahwa
kewajiban melaksanakan puasa
Ramadhan ditetapkan Allah pada
10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.
Apakah kewajiban itu langsung
ditetapkan oleh Al-Quran selama
sebutan penuh, ataukah
bertahap? Kalau melihat sikap Al-
Quran yang seringkali
melakukan penahapan dalam
perintah- perintahnya, maka
agaknya kewajiban berpuasa
pun dapat dikatakan demikian.
Ayat 184 yang menyatakan
ayyaman ma ’dudat (beberapa
hari tertentu) dipahami oleh
sementara ulama sebagai tiga
hari dalam sebutan yang
merupakan tahap awal dari
kewajiban berpuasa. Hari-hari
tersebut kemudian diperpanjang
dengan turunnya ayat 185.
Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas
umat-umat sebelum kamu agar
kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah
(2): 183)
(yaitu) dalam beberapa hari
yang tertentu. Maka barangsiapa
diantara kamu ada yang sakit
atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa) sebanyak
hari yang ditinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. Dan wajib
bagi orang-orang yang berat
menjalankannya (jika mereka
tidak berpuasa) membayar
fidyah, (yaitu): memberi makan
seorang miskin. Barangsiapa
yang dengan kerelaan hati
mengerjakan kebajikan, maka
itulah yang lebih baik baginya.
Dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui.(QS. Al-
Baqarah (2): 184)
(Beberapa hari yang ditentukan
itu ialah) bulan Ramadhan, bulan
yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Qur ’an sebagai
petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda
(antara yang hak dan yang
bathil). Karena itu, barangsiapa
di antara kamu hadir (di negeri
tempat tinggalnya) di bulan itu,
maka hendaklah ia berpuasa
pada bulan itu, dan barangsiapa
sakit atau dalam perjalanan (lalu
ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain. Allah
menghendaki kemudahan
bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan
hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah
kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu
bersyukur.(QS. Al-Baqarah (2):
185)
Pemahaman semacam ini
menjadikan ayat-ayat puasa
Ramadhan terputus-putus tidak
menjadi satu kesatuan. Merujuk
kepada ketiga ayat puasa
Ramadhan sebagai satu
kesatuan, Quraish Shihab lebih
cenderung mendukung
pendapat ulama yang
menyatakan bahwa Al-Quran
mewajibkannya tanpa
penahapan. Memang, tidak
mustahil bahwa Nabi dan
sahabatnya telah melakukan
puasa sunnah sebelumnya.
Namun itu bukan kewajiban dari
Al-Quran, apalagi tidak
ditemukan satu ayat pun yang
berbicara tentang puasa sunnah
tertentu.
Uraian Al-Quran tentang
kewajiban puasa di bulan
Ramadhan, dimulai dengan satu
pendahuluan yang mendorong
umat islam untuk
melaksanakannya dengan baik,
tanpa sedikit kekesalan pun.
Perhatikan surat Al-Baqarah (2):
183. ia dimulai dengan panggilan
mesra, “Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan kepada
kamu berpuasa. ” Di sini tidak
dijelaskan siapa yang
mewajibkan, belum juga
dijelaskan berapa kewajiban
puasa itu, tetapi terlebih dahulu
dikemukakan bahwa,
“ sebagaimana diwajibkan
terhadap umat-umat sebelum
kamu. ” Jika demikian, maka
wajar pula jika umat Islam
melaksanakannya, apalagi tujuan
puasa tersebut adalah untuk
kepentingan yang berpuasa
sendiri yakni “agar kamu
bertakwa (terhindar dari siksa).”
Kemudian Al-Quran dalam surat
Al-Baqarah (2): 184, 185
menjelaskan bahwa kewajiban
itu bukannya sepanjang tahun,
tetapi hanya “beberapa hari
tertentu,” itu pun hanya
diwajibkan bagi yang berada di
kampung halaman tempat
tinggalnya, dan dalam keadaan
sehat, sehingga “barangsiapa
sakit atau dalam perjalanan,”
maka dia (boleh) tidak berpuasa
dan menghitung berapa hari ia
tidak berpuasa untuk
digantikannya pada hari-hari
yang lain. “Sedang yang merasa
sangat berat berpuasa, maka
(sebagai gantinya) dia harus
membayar fidyah, yaitu
memberi makan seorang
miskin. ” Penjelasan di atas
ditutup dengan pernyataan
bahwa “berpuasa adalah baik.”
Setelah itu disusul dengan
penjelasan tentang
keistimewaan bulan Ramadhan,
dan dari sini datang perintah-
Nya untuk berpuasa pada bulan
tersebut, tetapi kembali
diingatkan bahwa orang yang
sakit dan dalam perjalanan
(boleh) tidak berpuasa dengan
memberikan penegasan
mengenai peraturan berpuasa
sebagaimana disebut
sebelumnya. Ayat tentang
kewajiban puasa Ramadhan
ditutup dengan “Allah
menghendaki kemudahdn untuk
kamu bukan kesulitan, ” lalu
diakhiri dengan perintah
bertakbir dan bersyukur. Ayat
186 tidak berbicara tentang
puasa, tetapi tentang doa.
Penempatan uraian tentang doa
atau penyisipannya dalam
uraian Al-Quran tentang puasa
tentu mempunyai rahasia
tersendiri. Agaknya ia
mengisyaratkan bahwa berdoa
di bulan Ramadhan merupakan
ibadah yang sangat dianjurkan,
dan karena itu ayat tersebut
menegaskan bahwa “Allah dekat
kepada hamba-hamba-Nya dan
menerima doa siapa yang
berdoa. ”
Selanjutnya ayat 187 antara lain
menyangkut izin melakukan
hubungan seks di malam
Ramadhan, di samping
penjelasan tentang lamanya
puasa yang harus dikerjakan,
yakni dari terbitnya fajar sampai
terbenamnya matahari.
Banyak informasi dan tuntunan
yang dapat ditarik dari ayat-
ayat di atas berkaitan dengan
hukum maupun tujuan puasa.
Berikut akan dikemukan
sekelumit baik yang berkaitan
dengan hukum maupun
hikmahnya, dengan
menggarisbawahi kata atau
kalimat dari ayat-ayat puasa di
atas.
BEBERAPA ASPEK HUKUM
BERKAITAN DENGAN PUASA
a. Faman kana minkum maridha
(Siapa di antara kamu yang
menderita sakit)
Maridh berarti sakit. Penyakit
dalam kaitannya dengan
berpuasa secara garis besar
dapat dibagi dua:
1. Penderita tidak dapat
berpuasa; dalam hal ini ia wajib
berbuka; dan
2. Penderita dapat berpuasa,
tetapi dengan mendapat
kesulitan atau keterlambatan
penyembuhan, maka ia
dianjurkan tidak berpuasa.
Sebagian ulama menyatakan
bahwa penyakit apa pun yang
diderita oleh seseorang,
membolehkannya untuk
berbuka. Ulama besar ibnu Sirin,
pernah ditemui makan di siang
hari bukan Ramadhan, dengan
alasan jari telunjuknya sakit.
Betapa pun, harus dicatat,
bahwa Al-Quran tidak merinci
persolan ini. Teks ayat mencakup
pemahaman ibnu Sirin tersebut.
Namun demikian agaknya kita
dapat berkata bahwa Allah SWT
sengaja memilih redaksi
demikian, guna menyerahkan
kepada nurani manusia masing-
masing untuk menentukan
sendiri apakah ia berpuasa atau
tidak. Di sisi lain harus diingat
bahwa orang yang tidak
berpuasa dengan alasan sakit
atau dalam perjalanan tetap
harus menggantikan hari-hari
ketika ia tidak berpuasa dalam
kesempatan yang lain.
b. Aw’ala safarin (atau dalam
perjalanan)
Ulama-ulama berbeda pendapat
tentang bolehnya berbuka
puasa bagi orang yang sedang
musafir. Perbedaan tersebut
berkaitan dengan jarak
perjalanan. Secara umum dapat
dikatakan bahwa jarak
perjalanan tersebut sekitar 90
kilometer, tetapi ada juga yang
tidak menetapkan jarak tertentu,
sehingga seberapa pun jarak
yang ditempuh selama dinamai
safar atau perjalanan, maka hal
itu merupakan izin untuk
memperoleh kemudahan
(rukhshah).
Perbedaan lain berkaitan dengan
‘ illat (sebab) izin ini. Apakah
karena adanya unsur safar
(perjalanan) atau unsur
keletihan akibat perjalanan. Di
sini, dipermasalahkan misalnya
jarak antara Jakarta-Yogya yang
ditempuh dengan pesawat
kurang dari satu jam, serta tidak
meletihkan, apakah ini dapat
dijadikan alasan untuk berbuka
atau meng-qashar shalat atau
tidak. Ini antara lain berpulang
kepada tinjauan sebab izin ini.
Selanjutnya mereka juga
memperselisihkan tujuan
perjalanan yang membolehkan
berbuka (demikian juga qashar
dan menjamak shalat). Apakah
perjalanan tersebut harus
bertujuan dalam kerangka
ketaatan kepada Allah, misalnya
perjalanan haji, silaturahmi,
belajar, atau termasuk juga
perjalanan bisnis dan mubah
(yang dibolehkan) seperti
wisata dan sebagainya. Agaknya
alasan yang memasukkan hal-hal
di atas sebagai membolehkan
berbuka, lebih kuat, kecuali jika
perjalanan tersebut untuk
perbuatan maksiat, maka tentu
yang bersangkutan tidak
memperoleh izin untuk berbuka
dan atau menjamak shalatnya.
Juga diperselisihkan apakah
yang lebih utama bagi seorang
musafir, berpuasa atau berbuka?
Imam Malik dan imam Syafi ’i
menilai bahwa berpuasa lebih
utama dan lebih baik bagi yang
mampu, tetapi sebagian besar
ulama bermazhab Maliki dan
Syafi ’i menilai bahwa hal ini
sebaiknya diserahkan kepada
masing-masing pribadi, dalam
arti apa pun pilihannya, maka
itulah yang lebih baik dan
utama. Pendapat ini dikuatkan
oleh sebuah riwayat dari imam
Bukhari dan Muslim melalui Anas
bin Malik yang menyatakan
bahwa, “Kami berada dalam
perjalanan di bulan Ramadhan,
ada yang berpuasa dan adapula
yang tidak berpuasa. Nabi tidak
mencela yang berpuasa, dan
tidak juga (mereka) yang tidak
berpuasa. ”
Memang ada juga ulama yang
beranggapan bahwa berpuasa
lebih baik bagi orang yang
mampu. Tetapi, sebaliknya, ada
pula yang menilai bahwa
berbuka lebih baik dengan
alasan, ini adalah izin Allah. Tidak
baik menolak izin dan seperti
penegasan Al-Quran sendiri
dalam konteks puasa, “Allah
menghendaki kemudahan untuk
kamu dan tidak menghendaki
kesulitan. ”
Bahkan ulama-ulama Zhahiriyah
dan Syi ’ah mewajibkan berbuka,
antara lain berdasar firman-Nya
dalam lanjutan ayat di atas,
yaitu:
c. Fa ‘iddatun min ayyamin
ukhar (sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari
lain).
Ulama keempat mazhab Sunnah
menyisipkan kalimat untuk
meluruskan redaksi di atas,
sehingga terjemahannya lebih
kurang berbunyi, “Barangsiapa
yang sakit atau dalam perjalanan
(dan ia tidak berpuasa), maka
(wajib baginya berpuasa)
sebanyak hari-hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari
yang lain. ”
Kalimat “lalu ia tidak berpuasa”
adalah sisipan yang oleh ulama
perlu adanya, karena terdapat
sekian banyak hadis yang
membolehkan berpuasa dalam
perjalanan, sehingga kewajiban
mengganti itu, hanya ditujukan
kepada para musafir dan orang
yang sakit tetapi tidak berpuasa.
Sisipan semacam ini ditolak oleh
ulama Syi ’ah dan Zhahiriyah,
sehingga dengan demikian
menjadi wajib bagi orang yang
sakit dan dalam perjalanan
untuk tidak berpuasa, dan wajib
pula menggantinya pada hari-
hari yang lain seperti bunyi
harfiah ayat di atas.
Apakah membayar puasa yang
ditinggalkan itu harus berturut-
turut? Ada sebuah hadis –tetapi
dinilai lemah– yang menyatakan
demikian. Tetapi ada riwayat
lain melalui Aisyah r.a. yang
menginformasikan bahwa
memang awalnya ada kata pada
ayat puasa yang berbunyi
mutatabi ’at, yang maksudnya
memerintahkan penggantian
(qadha ’) itu harus dilakukan
bersinambung tanpa sehari pun
berbuka sampai selesainya
jumlah yang diwajibkan. Tetapi
kata mutatabi ’at dalam fa
‘iddatun min ayyamin ukhar
mutatabi’at yang berarti berurut
atau bersinambung itu,
kemudian dihapus oleh Allah
SWT Sehingga akhirnya ayat
tersebut tanpa kata ini,
sebagaimana yang tercantum
dalam Mushaf sekarang.
Meng-qadha’ (mengganti) puasa,
apakah harus segera, dalam arti
harus dilakukannya pada awal
Syawal, ataukah dapat
ditangguhkan sampai sebelum
datangnya Ramadhan berikut?
Hanya segelintir kecil ulama
yang mengharuskan sesegera
mungkin, namun umumnya
tidak mengharuskan
ketergesaan itu, walaupun
diakui bahwa semakin cepat
semakin baik. Nah, bagaimana
kalau Ramadhan berikutnya
sudah berlalu, kemudian kita
tidak sempat menggantinya,
apakah ada kaffarat akibat
keterlambatan itu? Imam Malik,
Syafi ’i, dan Ahmad, berpendapat
bahwa di samping berpuasa, ia
harus membayar kaffarat
berupa memberi makan seorang
miskin; sedangkan imam Abu
Hanifah tidak mewajibkan
kaffarat dengan alasan tidak
dicakup oleh redaksi ayat di
atas.
d. Wa ‘alal ladzina yuthiqunahu
fidyatun tha’amu miskin
(Dan wajib bagi orang yang
berat menjalankannya
membayar fidyah, (yaitu):
memberi makan seorang miskin)
(QS Al-Baqarah [2]: 184).
Penggalan ayat ini
diperselisihkan maknanya oleh
banyak ulama tafsir. Ada yang
berpendapat bahwa pada
mulanya Allah SWT memberi
alternatif bagi orang yang wajib
puasa, yakni berpuasa atau
berbuka dengan membayar
fidyah. Ada juga yang
be~pendapat bahwa ayat ini
berbicara tentang para musafir
dan orang sakit, yakni bagi
kedua kelompok ini terdapat dua
kemungkinan: musafir dan
orang yang merasa berat untuk
berpuasa, maka ketika itu dia
harus berbuka; dan ada juga di
antara mereka, yang pada
hakikatnya mampu berpuasa,
tetapi enggan karena kurang
sehat dan atau dalam perjalanan,
maka bagi mereka
diperbolehkan untuk berbuka
dengan syarat membayar
fidyah.
Pendapat-pendapat di atas tidak
populer di kalangan mayoritas
ulama. Mayoritas memahami
penggalan ini berbicara tentang
orang-orang tua atau orang
yang mempunyai pekerjaan
yang sangat berat, sehingga
puasa sangat memberatkannya,
sedang ia tidak mempunyai
sumber rezeki lain kecuali
pekerjaan itu. Maka dalam
kondisi semacam ini. mereka
diperbolehkan untuk tidak
berpuasa dengan syarat
membayar fidyah. Demikian juga
halnya terhadap orang yang
sakit sehingga tidak dapat
berpuasa, dan diduga tidak akan
sembuh dari penyakitnya.
Termasuk juga dalam pesan
penggalan ayat di atas adalah
wanita-wanita hamil dan atau
menyusui. Dalam hal ini terdapat
rincian sebagai berikut:
Wanita yang hamil dan
menyusui wajib membayar
fidyah dan mengganti puasanya
di hari lain, seandainya yang
mereka khawatirkan adalah
janin atau anaknya yang sedang
menyusui. Tetapi bila yang
mereka khawatirkan diri mereka,
maka mereka berbuka dan
hanya wajib menggantinya di
hari lain, tanpa harus membayar
fidyah.
Fidyah dimaksud adalah
memberi makan fakir/miskin
setiap hari selama ia tidak
berpuasa. Ada yang
berpendapat sebanyak setengah
sha ’ (gantang) atau kurang lebih
3,125 gram gandum atau kurma
( makanan pokok). Ada juga yang
menyatakan satu mud yakni
sekitar lima perenam liter, dan
ada lagi yang mengembalikan
penentuan jumlahnya pada
kebiasaan yang berlaku pada
setiap masyarakat.
e. Uhilla lakum lailatash-shiyamir-
rafatsu ila nisa ’ikum
(Dihalalkan kepada kamu pada
malam Ramadhan bersebadan
dengan istrimu) (QS Al-Baqarah
[2]: 187)
Ayat ini membolehkan
hubungan seks (bersebadan) di
malam hari bulan Ramadhan,
dan ini berarti bahwa di siang
hari Ramadhan, hubungan seks
tidak dibenarkan. Termasuk
dalam pengertian hubungan
seks adalah “mengeluarkan
sperma” dengan cara apa pun.
Karena itu walaupun ayat ini tak
melarang ciuman, atau pelukan
antar suami-istri, namun para
ulama mengingatkan bahwa hal
tersebut bersifat makruh,
khususnya bagi yang tidak
dapat menahan diri, karena
dapat mengakibatkan keluarnya
sperma. Menurut istri Nabi,
Aisyah r.a., Nabi saw pernah
mencium istrinya saat berpuasa.
Nah, bagi yang mencium atau
apa pun selain berhubungan
seks, kemudian ternyata
“ basah”, maka puasanya batal;
ia harus menggantinya pada
hari lain. Tetapi mayoritas ulama
tidak mewajibkan yang
bersangkutan membayar
kaffarat, kecuali jika ia
melakukan hubungan seks (di
siang hari), dan kaffaratnya
dalam hal ini berdasarkan hadis
Nabi adalah berpuasa dua bulan
berturut-turut. Jika tidak
mampu, maka ia harus
memerdekakan hamba. Jika tidak
mampu juga, maka ia harus
memberi makan enam puluh
orang miskin.
Bagi yang melakukan hubungan
seks di malam hari, tidak harus
mandi sebelum terbitnya fajar.
Ia hanya berkewajiban mandi
sebelum shalat subuh, sehingga
shalat subuhnya dalam keadaan
suci. Demikian pendapat
mayoritas ulama.
f. Wakulu wasyrabu hatta
yatabayyana lakumul khaith al-
abyadhu minal khaithil aswadi
minal fajr
(Makan dan minumlah sampai
terang bagimu benang putih
dan benang hitam, yaitu fajar).
Ayat ini membolehkan
seseorang untuk makan dan
minum (juga melakukan
hubungan seks) sampai
terbitnya fajar.
Pada zaman Nabi, beberapa saat
sebelum fajar, Bilal
mengumandangkan azan,
namun beliau mengingatkan
bahwa bukan itu yang dimaksud
dengan fajar yang
mengakibatkan larangan di atas.
Imsak yang diadakan hanya
sebagai peringatan dan
persiapan untuk tidak lagi
melakukan aktivitas yang
terlarang. Namun bila dilakukan,
maka dari segi hukum masih
dapat dipertanggungjawabkan
selama waktu subuh belum
masuk. Jadi batas sesungguhnya
bukan imsak, melainkan waktu
subuh (azan subuh).
g. Tsumma atimmush shiyama
ilal lail (Kemudian
sempurnakanlah puasa itu
sampai malam).
Penggalan ayat ini datang
setelah ada izin untuk makan
dan minum sampai dengan
datangnya fajar.
Puasa dimulai dengan terbitnya
fajar, dan berakhir dengan
datangnya malam. Persoalan
yang juga diperbincangkan oleh
para ulama adalah pengertian
malam. Ada yang memahami
kata malam dengan
tenggelamnya matahari
walaupun masih ada mega
merah, dan ada juga yang
memahami malam dengan
hilangnya mega merah dan
menyebarnya kegelapan.
Pendapat pertama didukung
oleh banyak hadis Nabi saw,
sedang pendapat kedua
dikuatkan oleh pengertian
kebahasaan dari lail yang
diterjemahkan “malam”. Kata lail
berarti “sesuatu yang gelap”
karenanya rambut yang
berwarna hitam pun dinamai lail.
Pendapat pertama sejalan juga
dengan anjuran Nabi saw untuk
mempercepat berbuka puasa,
dan memperlambat sahur.
Pendapat kedua sejalan dengan
sikap kehatian-hatian karena
khawatir magrib sebenarnya
belum masuk.
Demikian sedikit dari banyak
aspek hukum yang dicakup oleh
ayat-ayat yang berbicara
tentang puasa Ramadhan.
TUJUAN BERPUASA
Secara jelas Al-Quran
menyatakan bahwa tujuan
puasa adalah untuk mencapai
ketakwaan atau la ’allakum
tattaqun. Dalam rangka
memahami tujuan tersebut
agaknya perlu digarisbawahi
beberapa penjelasan dari Nabi
saw misalnya, “Banyak di antara
orang yang berpuasa tidak
memperoleh sesuatu dari
puasanya, kecuali rasa lapar dan
dahaga. ”
Ini berarti bahwa menahan diri
dari lapar dan dahaga bukan
tujuan utama dari puasa. Ini
dikuatkan pula dengan firman-
Nya bahwa “Allah menghendaki
untuk kamu kemudahan bukan
kesulitan. ”
Di sisi lain, dalam sebuah hadis
qudsi, Allah berfirman, “Semua
amal putra-putri Adam untuk
dirinya, kecuali puasa. Puasa
adalah untuk-Ku dan Aku yang
memberi ganjaran atasnya. ”
Ini berarti pula bahwa puasa
merupakan satu ibadah yang
unik. Tentu saja banyak segi
keunikan puasa yang dapat
dikemukakan, misalnya bahwa
puasa merupakan rahasia antara
Allah dan pelakunya sendiri.
Bukankah manusia yang
berpuasa dapat bersembunyi
untuk minum dan makan?
Bukankah sebagai insan, siapa
pun yang berpuasa, memiliki
keinginan untuk makan atau
minum pada saat-saat tertentu
dari siang hari puasa? Nah, kalau
demikian, apa motivasinya
menahan diri dan keinginan itu?
Tentu bukan karena takut atau
segan dari manusia, sebab jika
demikian, dia dapat saja
bersembunyi dari pandangan
mereka. Di sini disimpulkan
bahwa orang yang berpuasa,
melakukannya demi karena Allah
SWT Demikian antara lain
penjelasan sementara ulama
tentang keunikan puasa dan
makna hadis qudsi di atas.
Sementara pakar ada yang
menegaskan bahwa puasa
dilakukan manusia dengan
berbagai motif, misalnya, protes,
turut belasungkawa, penyucian
diri, kesehatan, dan sebagai-nya.
Tetapi seorang yang berpuasa
Ramadhan dengan benar, sesuai
dengan cara yang dituntut oleh
Al-Quran, maka pastilah ia akan
melakukannya karena Allah
semata.
Di sini Anda boleh bertanya,
“ Bagaimana puasa yang
demikian dapat mengantarkan
manusia kepada takwa ?” Untuk
menjawabnya terlebih dahulu
harus diketahui apa yang
dimaksud dengan takwa.
PUASA DAN TAKWA
Takwa terambil dari akar kata
yang bermakna menghindar,
menjauhi, atau menjaga diri.
Kalimat perintah ittaqullah
secara harfiah berarti,
“ Hindarilah, jauhilah, atau jagalah
dirimu dari Allah”. Makna ini
mustahil dapat dilakukan
makhluk. Bagaimana mungkin
makhluk menghindarkan diri
dari Allah atau menjauhi-Nya,
sedangkan “Dia (Allah) bersama
kamu di mana pun kamu
berada. ” Karena itu perlu
disisipkan kata atau kalimat
untuk meluruskan maknanya.
Misalnya kata siksa atau yang
semakna dengannya, sehingga
perintah bertakwa mengandung
arti perintah untuk “Hindarilah,
jauhilah, atau jagalah dirimu dari
siksa Allah ”.
Sebagaimana kita ketahui, siksa
Allah ada dua macam.
a. Siksa di dunia akibat
pelanggaran terhadap hukum-
hukum Tuhan yang ditetapkan-
Nya berlaku di alam raya ini,
seperti misalnya, “Makan
berlebihan dapat menimbulkan
penyakit, ” “Tidak mengendalikan
diri dapat menjerumuskan
kepada bencana ”, dan hukum-
hukum alam dan masyarakat
lainnya.
b. Siksa di akhirat, akibat
pelanggaran terhadap hukum
syariat, seperti tidak shalat,
tidak puasa, mencuri, melanggar
hak-hak manusia, dan lain-lain
yang dapat mengakibatkan siksa
neraka.
Syaikh Muhammad Abduh
menulis, “Menghindari siksa atau
hukuman Allah, diperoleh
dengan jalan menghindarkan diri
dari segala yang dilarangnya
serta mengikuti apa yang
diperintahkan-Nya. Hal ini dapat
terwujud dengan rasa takut dari
siksaan dan/atau takut dari
yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa
takut ini, pada mulanya timbul
karena adanya siksaan, tetapi
seharusnya ia timbul karena
adanya Allah SWT. ”
Dengan demikian yang
bertakwa adalah orang yang
merasakan kehadiran Allah SWT
setiap saat, “bagaikan melihat-
Nya atau kalau yang demikian
tidak mampu dicapainya, maka
paling tidak, menyadari bahwa
Allah melihatnya, ” sebagaimana
bunyi sebuah hadis.
Tentu banyak cara yang dapat
dilakukan untuk mencapai hal
tersebut, antara lain dengan
jalan berpuasa. Puasa seperti
yang dikemukakan di atas
adalah satu ibadah yang unik.
Keunikannya antara lain karena
ia merupakan upaya manusia
meneladani Allah SWT
PUASA MENELADANI SIFAT-SIFAT
ALLAH
Beragama menurut sementara
pakar adalah upaya manusia
meneladani sifat-sifat Allah,
sesuai dengan kedudukan
manusia sebagai makhluk. Nabi
saw memerintahkan,
“Takhallaqu bi akhlaq
Allah” (Berakhlaklah (teladanilah)
sifat-sifat Allah).
Apakah aku jadikan pelindung
selain Allah yang menjadikan
langit dan bumi padahal Dia
memberi makan dan tidak diberi
makan …? (QS Al-An’am [6]: 14).
Dengan berpuasa, manusia
berupaya dalam tahap awal dan
minimal mencontohi sifat-sifat
tersebut. Tidak makan dan tidak
minum, bahkan memberi makan
orang lain (ketika berbuka
puasa), dan tidak pula
berhubungan seks di pagi-siang-
sore hari, walaupun
pasangannya ada.
Tentu saja sifat-sifat Allah tidak
terbatas pada ketiga hal itu,
tetapi mencakup paling tidak
sembilan puluh sembilan sifat
yang kesemuanya harus
diupayakan untuk diteladani
sesuai dengan kemampuan dan
kedudukan manusia sebagai
makhluk ilahi. Misalnya Maha
Pengasih dan Penyayang,
Mahadamai, Mahakuat, Maha
Mengetahui, dan lain-lain. Upaya
peneladanan ini dapat
mengantarkan manusia
menghadirkan Tuhan dalam
kesadarannya, dan bila hal itu
berhasil dilakukan, maka takwa
dalam pengertian di atas dapat
pula dicapai.
Karena itu, nilai puasa
ditentukan oleh kadar
pencapaian kesadaran tersebut
(bukan pada sisi lapar dan
dahaga), sehingga dari sini
dapat dimengerti mengapa Nabi
saw menyatakan bahwa,
“ Banyak orang yang berpuasa,
tetapi tidak memperoleh dari
puasanya kecuali rasa lapar dan
dahaga. ”
PUASA UMAT TERDAHULU
Puasa telah dilakukan oleh umat-
umat terdahulu. Kama kutiba
‘ alal ladzina min qablikum
(Sebagaimana diwajibkan atas
(umat-umat) yang sebelum
kamu). Dari segi ajaran agama,
para ulama menyatakan bahwa
semua agama samawi, sama
dalam prinsip-prinsip pokok
akidah, syariat, serta akhlaknya.
Ini berarti bahwa semua agama
samawi mengajarkan keesaan
Allah, kenabian, dan keniscayaan
hari kemudian, shalat, puasa,
zakat, dan berkunjung ke tempat
tertentu sebagai pendekatan
kepada Allah adalah prinsip-
prinsip syariat yang dikenal
dalam agama-agama samawi.
Tentu saja cara dan kaifiatnya
dapat berbeda, namun esensi
dan tujuannya sama.
Kita dapat mempertanyakan
mengapa puasa menjadi
kewajiban bagi umat islam dan
umat-umat terdahulu?
Manusia memiliki kebebasan
bertindak memilih dan memilah
aktivitasnya, termasuk dalam hal
ini, makan, minum, dan
berhubungan seks. Kebebasan
yang dimiliki manusia, bila tidak
dikendalikan dapat menghambat
pelaksanaan fungsi dan peranan
yang harus diembannya.
Kenyataan menunjukkan bahwa
orang-orang yang memenuhi
syahwat perutnya melebihi
kadar yang diperlukan, bukan
saja menjadikannya tidak lagi
menikmati makanan atau
minuman itu, tetapi relatif
mudah terserang penyakit.
Sebagaimana disinggung di atas,
esensi puasa adalah menahan
atau mengendalikan diri.
Pengendalian ini diperlukan oleh
manusia, baik secara individu
maupun kelompok. Latihan dan
pengendalian diri itulah esensi
puasa.
Puasa dengan demikian
dibutuhkan oleh semua manusia,
kaya atau miskin, pandai atau
bodoh, untuk kepentingan
pribadi atau masyarakat. Tidak
heran jika puasa telah dikenal
oleh umat-umat sebelum umat
Islam, sebagaimana
diinformasikan oleh Al-Quran.
Nabi saw bersabda, “Seandainya
umatku mengetahui (semua
keistimewaan) yang dikandung
oleh Ramadhan, niscaya mereka
mengharap seluruh bulan
menjadi Ramadhan. ”
KEISTIMEWAAN BULAN
RAMADHAN
Dalam rangkaian ayat-ayat yang
berbicara tentang puasa, Allah
menjelaskan bahwa Al-Quran
diturunkan pada bulan
Ramadhan. Dan pada ayat lain
dinyatakannya bahwa Al-Quran
turun pada malam Qadar,
Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Al-Quran) pada
Lailat Al-Qadr.
Ini berarti bahwa di bulan
Ramadhan terdapat malam
Qadar itu, yang menurut Al-
Quran lebih baik dari seribu
bulan. Para malaikat dan Ruh
(Jibril) silih berganti turun seizin
Allah SWT, dan kedamaian akan
terasa hingga terbitnya fajar.
Di sisi lain bahwa dalam
rangkaian ayat-ayat puasa
Ramadhan, disisipkan ayat yang
mengandung pesan tentang
kedekatan Allah SWT kepada
hamba-hamba-Nya serta janji-
Nya untuk mengabulkan doa
siapa pun yang dengan tulus
berdoa.
“ selamat datang” tetapi
penggunaannya berbeda. Para
ulama tidak menggunakan ahlan
wa sahlan untuk menyambut
datangnya bulan Ramadhan,
melainkan “marhaban ya
Ramadhan”.
Ahlan terambil dari kata ahl yang
berarti “keluarga”, sedangkan
sahlan berasal dari kata sahl
yang berarti mudah. Juga berarti
“ dataran rendah” karena mudah
dilalui, tidak seperti “jalan
mendaki”. Ahlan wa sahlan,
adalah ungkapan selamat
datang, yang dicelahnya
terdapat kalimat tersirat yaitu,
“( Anda berada di tengah)
keluarga dan (melangkahkan
kaki di) dataran rendah yang
mudah. ”
Marhaban terambil dari kata
rahb yang berarti “luas” atau
“lapang”, sehingga marhaban
menggambarkan bahwa tamu
disambut dan diterima dengan
dada lapang, penuh
kegembiraan serta dipersiapkan
baginya ruang yang luas untuk
melakukan apa saja yang
diinginkannya. Dari akar kata
yang sama dengan “marhaban”,
terbentuk kata rahbat yang
antara lain berarti “ruangan luas
untuk kendaraan, untuk
memperoleh perbaikan atau
kebutuhan pengendara guna
melanjutkan perjalanan. ”
Marhaban ya Ramadhan berarti
“ Selamat datang Ramadhan”
mengandung arti bahwa kita
menyambutnya dengan lapang
dada, penuh kegembiraan; tidak
dengan menggerutu dan
menganggap kehadirannya
“ mengganggu ketenangan” atau
suasana nyaman kita.
Marhaban ya Ramadhan, kita
ucapkan untuk bulan suci itu,
karena kita mengharapkan agar
jiwa raga kita diasah dan diasuh
guna melanjutkan perjalanan
menuju Allah SWT
Ada gunung yang tinggi yang
harus ditelusuri guna menemui-
Nya, itulah nafsu. Di gunung itu
ada lereng yang curam, belukar
yang lebat, bahkan banyak
perampok yang mengancam,
serta iblis yang merayu, agar
perjalanan tidak melanjutkan.
Bertambah tinggi gunung didaki,
bertambah hebat ancaman dan
rayuan, semakin curam dan
ganas pula perjalanan. Tetapi,
bila tekad tetap membaja,
sebentar lagi akan tampak
cahaya benderang, dan saat itu,
akan tampak dengan jelas
rambu-rambu jalan, tampak
tempat-tempat indah untuk
berteduh, serta telaga-telaga
jernih untuk melepaskan dahaga.
Dan bila perjalanan dilanjutkan
akan ditemukan kendaraan Ar-
Rahman untuk mengantar sang
musafir bertemu dengan
kekasihnya, Allah SWT Demikian
kurang lebih perjalanan itu
dilukiskan dalam buku Madarij
As-Salikin.
Tentu kita perlu mempersiapkan
bekal guna menelusuri jalan itu.
Tahukah Anda apakah bekal itu?
Benih-benih kebajikan yang
harus kita tabur di lahan jiwa
kita. Tekad yang membaja untuk
memerangi nafsu, agar kita
mampu menghidupkan malam
Ramadhan dengan shalat dan
tadarus, serta siangnya dengan
ibadah kepada Allah melalui
pengabdian untuk agama,
bangsa dan negara. Semoga kita
berhasil, dan untuk itu mari kita
buka lembaran Al-Quran
mempelajari bagaimana
tuntunannya.
PUASA MENURUT AL-QURAN
Al-Quran menggunakan kata
shiyam sebanyak delapan kali,
kesemuanya dalam arti puasa
menurut pengertian hukum
syariat. Kata ini juga terdapat
masing-masing sekali dalam
bentuk perintah berpuasa di
bulan Ramadhan, sekali dalam
bentuk kata kerja yang
menyatakan bahwa “berpuasa
adalah baik untuk kamu”, dan
sekali menunjuk kepada pelaku-
pelaku puasa pria dan wanita,
yaitu ash-shaimin wash-shaimat.
Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa
(shiyamu)sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu
bertakwa, (QS. Al-Baqarah [2] :
ayat 183)
Kata-kata yang beraneka bentuk
itu, kesemuanya terambil dari
akar kata yang sama yakni sha-
wa-ma yang dari segi bahasa
maknanya berkisar pada
“ menahan” dan “berhenti” atau
“tidak bergerak”. Manusia yang
berupaya menahan diri dari satu
aktivitas –apa pun aktivitas itu–
dinamai shaim (berpuasa).
Pengertian kebahasaan ini,
dipersempit maknanya oleh
hukum syariat, sehingga shiyam
hanya digunakan untuk
“ menahan diri dari makan,
minum, dan upaya
mengeluarkan sperma dari
terbitnya fajar hingga
terbenamnya matahari ”.
Kaum sufi, merujuk ke hakikat
dan tujuan puasa,
menambahkan kegiatan yang
harus dibatasi selama melakukan
puasa. Ini mencakup
pembatasan atas seluruh
anggota tubuh bahkan hati dan
pikiran dari melakukan segala
macam dosa.
Betapa pun, shiyam atau shaum
– bagi manusia– pada hakikatnya
adalah menahan atau
mengendalikan diri. Karena itu
pula puasa dipersamakan
dengan sikap sabar, baik dari
segi pengertian bahasa
(keduanya berarti menahan diri)
maupun esensi kesabaran dan
puasa.
Hadis qudsi yang menyatakan
antara lain bahwa, “Puasa
untuk-Ku, dan Aku yang
memberinya ganjaran ”
dipersamakan oleh banyak
ulama dengan firman-Nya dalam
surat Az-Zumar (39): 10.
Sesungguhnya hanya orang-
orang yang bersabarlah yang
disempurnakan pahalanya tanpa
batas. (QS. Az-Zumar (39): 10)
Orang sabar yang dimaksud di
sini adalah orang yang berpuasa.
Ada beberapa macam puasa
dalam pengertian syariat/hukum
sebagaimana disinggung di atas.
1. Puasa wajib sebutan
Ramadhan.
2. Puasa kaffarat, akibat
pelanggaran, atau semacamnya.
3. Puasa sunnah.
Tulisan ini akan membatasi
uraian pada hal-hal yang
berkisar pada puasa bulan
Ramadhan.
PUASA RAMADHAN
Uraian Al-Quran tentang puasa
Ramadhan, ditemukan dalam
surat Al-Baqarah (2): 183, 184,
185, dan 187. Ini berarti bahwa
puasa Ramadhan baru
diwajibkan setelah Nabi saw
tiba di Madinah, karena ulama Al-
Quran sepakat bahwa surat Al-
Baqarah turun di Madinah. Para
sejarawan menyatakan bahwa
kewajiban melaksanakan puasa
Ramadhan ditetapkan Allah pada
10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.
Apakah kewajiban itu langsung
ditetapkan oleh Al-Quran selama
sebutan penuh, ataukah
bertahap? Kalau melihat sikap Al-
Quran yang seringkali
melakukan penahapan dalam
perintah- perintahnya, maka
agaknya kewajiban berpuasa
pun dapat dikatakan demikian.
Ayat 184 yang menyatakan
ayyaman ma ’dudat (beberapa
hari tertentu) dipahami oleh
sementara ulama sebagai tiga
hari dalam sebutan yang
merupakan tahap awal dari
kewajiban berpuasa. Hari-hari
tersebut kemudian diperpanjang
dengan turunnya ayat 185.
Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas
umat-umat sebelum kamu agar
kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah
(2): 183)
(yaitu) dalam beberapa hari
yang tertentu. Maka barangsiapa
diantara kamu ada yang sakit
atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa) sebanyak
hari yang ditinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. Dan wajib
bagi orang-orang yang berat
menjalankannya (jika mereka
tidak berpuasa) membayar
fidyah, (yaitu): memberi makan
seorang miskin. Barangsiapa
yang dengan kerelaan hati
mengerjakan kebajikan, maka
itulah yang lebih baik baginya.
Dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui.(QS. Al-
Baqarah (2): 184)
(Beberapa hari yang ditentukan
itu ialah) bulan Ramadhan, bulan
yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Qur ’an sebagai
petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda
(antara yang hak dan yang
bathil). Karena itu, barangsiapa
di antara kamu hadir (di negeri
tempat tinggalnya) di bulan itu,
maka hendaklah ia berpuasa
pada bulan itu, dan barangsiapa
sakit atau dalam perjalanan (lalu
ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain. Allah
menghendaki kemudahan
bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan
hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah
kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu
bersyukur.(QS. Al-Baqarah (2):
185)
Pemahaman semacam ini
menjadikan ayat-ayat puasa
Ramadhan terputus-putus tidak
menjadi satu kesatuan. Merujuk
kepada ketiga ayat puasa
Ramadhan sebagai satu
kesatuan, Quraish Shihab lebih
cenderung mendukung
pendapat ulama yang
menyatakan bahwa Al-Quran
mewajibkannya tanpa
penahapan. Memang, tidak
mustahil bahwa Nabi dan
sahabatnya telah melakukan
puasa sunnah sebelumnya.
Namun itu bukan kewajiban dari
Al-Quran, apalagi tidak
ditemukan satu ayat pun yang
berbicara tentang puasa sunnah
tertentu.
Uraian Al-Quran tentang
kewajiban puasa di bulan
Ramadhan, dimulai dengan satu
pendahuluan yang mendorong
umat islam untuk
melaksanakannya dengan baik,
tanpa sedikit kekesalan pun.
Perhatikan surat Al-Baqarah (2):
183. ia dimulai dengan panggilan
mesra, “Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan kepada
kamu berpuasa. ” Di sini tidak
dijelaskan siapa yang
mewajibkan, belum juga
dijelaskan berapa kewajiban
puasa itu, tetapi terlebih dahulu
dikemukakan bahwa,
“ sebagaimana diwajibkan
terhadap umat-umat sebelum
kamu. ” Jika demikian, maka
wajar pula jika umat Islam
melaksanakannya, apalagi tujuan
puasa tersebut adalah untuk
kepentingan yang berpuasa
sendiri yakni “agar kamu
bertakwa (terhindar dari siksa).”
Kemudian Al-Quran dalam surat
Al-Baqarah (2): 184, 185
menjelaskan bahwa kewajiban
itu bukannya sepanjang tahun,
tetapi hanya “beberapa hari
tertentu,” itu pun hanya
diwajibkan bagi yang berada di
kampung halaman tempat
tinggalnya, dan dalam keadaan
sehat, sehingga “barangsiapa
sakit atau dalam perjalanan,”
maka dia (boleh) tidak berpuasa
dan menghitung berapa hari ia
tidak berpuasa untuk
digantikannya pada hari-hari
yang lain. “Sedang yang merasa
sangat berat berpuasa, maka
(sebagai gantinya) dia harus
membayar fidyah, yaitu
memberi makan seorang
miskin. ” Penjelasan di atas
ditutup dengan pernyataan
bahwa “berpuasa adalah baik.”
Setelah itu disusul dengan
penjelasan tentang
keistimewaan bulan Ramadhan,
dan dari sini datang perintah-
Nya untuk berpuasa pada bulan
tersebut, tetapi kembali
diingatkan bahwa orang yang
sakit dan dalam perjalanan
(boleh) tidak berpuasa dengan
memberikan penegasan
mengenai peraturan berpuasa
sebagaimana disebut
sebelumnya. Ayat tentang
kewajiban puasa Ramadhan
ditutup dengan “Allah
menghendaki kemudahdn untuk
kamu bukan kesulitan, ” lalu
diakhiri dengan perintah
bertakbir dan bersyukur. Ayat
186 tidak berbicara tentang
puasa, tetapi tentang doa.
Penempatan uraian tentang doa
atau penyisipannya dalam
uraian Al-Quran tentang puasa
tentu mempunyai rahasia
tersendiri. Agaknya ia
mengisyaratkan bahwa berdoa
di bulan Ramadhan merupakan
ibadah yang sangat dianjurkan,
dan karena itu ayat tersebut
menegaskan bahwa “Allah dekat
kepada hamba-hamba-Nya dan
menerima doa siapa yang
berdoa. ”
Selanjutnya ayat 187 antara lain
menyangkut izin melakukan
hubungan seks di malam
Ramadhan, di samping
penjelasan tentang lamanya
puasa yang harus dikerjakan,
yakni dari terbitnya fajar sampai
terbenamnya matahari.
Banyak informasi dan tuntunan
yang dapat ditarik dari ayat-
ayat di atas berkaitan dengan
hukum maupun tujuan puasa.
Berikut akan dikemukan
sekelumit baik yang berkaitan
dengan hukum maupun
hikmahnya, dengan
menggarisbawahi kata atau
kalimat dari ayat-ayat puasa di
atas.
BEBERAPA ASPEK HUKUM
BERKAITAN DENGAN PUASA
a. Faman kana minkum maridha
(Siapa di antara kamu yang
menderita sakit)
Maridh berarti sakit. Penyakit
dalam kaitannya dengan
berpuasa secara garis besar
dapat dibagi dua:
1. Penderita tidak dapat
berpuasa; dalam hal ini ia wajib
berbuka; dan
2. Penderita dapat berpuasa,
tetapi dengan mendapat
kesulitan atau keterlambatan
penyembuhan, maka ia
dianjurkan tidak berpuasa.
Sebagian ulama menyatakan
bahwa penyakit apa pun yang
diderita oleh seseorang,
membolehkannya untuk
berbuka. Ulama besar ibnu Sirin,
pernah ditemui makan di siang
hari bukan Ramadhan, dengan
alasan jari telunjuknya sakit.
Betapa pun, harus dicatat,
bahwa Al-Quran tidak merinci
persolan ini. Teks ayat mencakup
pemahaman ibnu Sirin tersebut.
Namun demikian agaknya kita
dapat berkata bahwa Allah SWT
sengaja memilih redaksi
demikian, guna menyerahkan
kepada nurani manusia masing-
masing untuk menentukan
sendiri apakah ia berpuasa atau
tidak. Di sisi lain harus diingat
bahwa orang yang tidak
berpuasa dengan alasan sakit
atau dalam perjalanan tetap
harus menggantikan hari-hari
ketika ia tidak berpuasa dalam
kesempatan yang lain.
b. Aw’ala safarin (atau dalam
perjalanan)
Ulama-ulama berbeda pendapat
tentang bolehnya berbuka
puasa bagi orang yang sedang
musafir. Perbedaan tersebut
berkaitan dengan jarak
perjalanan. Secara umum dapat
dikatakan bahwa jarak
perjalanan tersebut sekitar 90
kilometer, tetapi ada juga yang
tidak menetapkan jarak tertentu,
sehingga seberapa pun jarak
yang ditempuh selama dinamai
safar atau perjalanan, maka hal
itu merupakan izin untuk
memperoleh kemudahan
(rukhshah).
Perbedaan lain berkaitan dengan
‘ illat (sebab) izin ini. Apakah
karena adanya unsur safar
(perjalanan) atau unsur
keletihan akibat perjalanan. Di
sini, dipermasalahkan misalnya
jarak antara Jakarta-Yogya yang
ditempuh dengan pesawat
kurang dari satu jam, serta tidak
meletihkan, apakah ini dapat
dijadikan alasan untuk berbuka
atau meng-qashar shalat atau
tidak. Ini antara lain berpulang
kepada tinjauan sebab izin ini.
Selanjutnya mereka juga
memperselisihkan tujuan
perjalanan yang membolehkan
berbuka (demikian juga qashar
dan menjamak shalat). Apakah
perjalanan tersebut harus
bertujuan dalam kerangka
ketaatan kepada Allah, misalnya
perjalanan haji, silaturahmi,
belajar, atau termasuk juga
perjalanan bisnis dan mubah
(yang dibolehkan) seperti
wisata dan sebagainya. Agaknya
alasan yang memasukkan hal-hal
di atas sebagai membolehkan
berbuka, lebih kuat, kecuali jika
perjalanan tersebut untuk
perbuatan maksiat, maka tentu
yang bersangkutan tidak
memperoleh izin untuk berbuka
dan atau menjamak shalatnya.
Juga diperselisihkan apakah
yang lebih utama bagi seorang
musafir, berpuasa atau berbuka?
Imam Malik dan imam Syafi ’i
menilai bahwa berpuasa lebih
utama dan lebih baik bagi yang
mampu, tetapi sebagian besar
ulama bermazhab Maliki dan
Syafi ’i menilai bahwa hal ini
sebaiknya diserahkan kepada
masing-masing pribadi, dalam
arti apa pun pilihannya, maka
itulah yang lebih baik dan
utama. Pendapat ini dikuatkan
oleh sebuah riwayat dari imam
Bukhari dan Muslim melalui Anas
bin Malik yang menyatakan
bahwa, “Kami berada dalam
perjalanan di bulan Ramadhan,
ada yang berpuasa dan adapula
yang tidak berpuasa. Nabi tidak
mencela yang berpuasa, dan
tidak juga (mereka) yang tidak
berpuasa. ”
Memang ada juga ulama yang
beranggapan bahwa berpuasa
lebih baik bagi orang yang
mampu. Tetapi, sebaliknya, ada
pula yang menilai bahwa
berbuka lebih baik dengan
alasan, ini adalah izin Allah. Tidak
baik menolak izin dan seperti
penegasan Al-Quran sendiri
dalam konteks puasa, “Allah
menghendaki kemudahan untuk
kamu dan tidak menghendaki
kesulitan. ”
Bahkan ulama-ulama Zhahiriyah
dan Syi ’ah mewajibkan berbuka,
antara lain berdasar firman-Nya
dalam lanjutan ayat di atas,
yaitu:
c. Fa ‘iddatun min ayyamin
ukhar (sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari
lain).
Ulama keempat mazhab Sunnah
menyisipkan kalimat untuk
meluruskan redaksi di atas,
sehingga terjemahannya lebih
kurang berbunyi, “Barangsiapa
yang sakit atau dalam perjalanan
(dan ia tidak berpuasa), maka
(wajib baginya berpuasa)
sebanyak hari-hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari
yang lain. ”
Kalimat “lalu ia tidak berpuasa”
adalah sisipan yang oleh ulama
perlu adanya, karena terdapat
sekian banyak hadis yang
membolehkan berpuasa dalam
perjalanan, sehingga kewajiban
mengganti itu, hanya ditujukan
kepada para musafir dan orang
yang sakit tetapi tidak berpuasa.
Sisipan semacam ini ditolak oleh
ulama Syi ’ah dan Zhahiriyah,
sehingga dengan demikian
menjadi wajib bagi orang yang
sakit dan dalam perjalanan
untuk tidak berpuasa, dan wajib
pula menggantinya pada hari-
hari yang lain seperti bunyi
harfiah ayat di atas.
Apakah membayar puasa yang
ditinggalkan itu harus berturut-
turut? Ada sebuah hadis –tetapi
dinilai lemah– yang menyatakan
demikian. Tetapi ada riwayat
lain melalui Aisyah r.a. yang
menginformasikan bahwa
memang awalnya ada kata pada
ayat puasa yang berbunyi
mutatabi ’at, yang maksudnya
memerintahkan penggantian
(qadha ’) itu harus dilakukan
bersinambung tanpa sehari pun
berbuka sampai selesainya
jumlah yang diwajibkan. Tetapi
kata mutatabi ’at dalam fa
‘iddatun min ayyamin ukhar
mutatabi’at yang berarti berurut
atau bersinambung itu,
kemudian dihapus oleh Allah
SWT Sehingga akhirnya ayat
tersebut tanpa kata ini,
sebagaimana yang tercantum
dalam Mushaf sekarang.
Meng-qadha’ (mengganti) puasa,
apakah harus segera, dalam arti
harus dilakukannya pada awal
Syawal, ataukah dapat
ditangguhkan sampai sebelum
datangnya Ramadhan berikut?
Hanya segelintir kecil ulama
yang mengharuskan sesegera
mungkin, namun umumnya
tidak mengharuskan
ketergesaan itu, walaupun
diakui bahwa semakin cepat
semakin baik. Nah, bagaimana
kalau Ramadhan berikutnya
sudah berlalu, kemudian kita
tidak sempat menggantinya,
apakah ada kaffarat akibat
keterlambatan itu? Imam Malik,
Syafi ’i, dan Ahmad, berpendapat
bahwa di samping berpuasa, ia
harus membayar kaffarat
berupa memberi makan seorang
miskin; sedangkan imam Abu
Hanifah tidak mewajibkan
kaffarat dengan alasan tidak
dicakup oleh redaksi ayat di
atas.
d. Wa ‘alal ladzina yuthiqunahu
fidyatun tha’amu miskin
(Dan wajib bagi orang yang
berat menjalankannya
membayar fidyah, (yaitu):
memberi makan seorang miskin)
(QS Al-Baqarah [2]: 184).
Penggalan ayat ini
diperselisihkan maknanya oleh
banyak ulama tafsir. Ada yang
berpendapat bahwa pada
mulanya Allah SWT memberi
alternatif bagi orang yang wajib
puasa, yakni berpuasa atau
berbuka dengan membayar
fidyah. Ada juga yang
be~pendapat bahwa ayat ini
berbicara tentang para musafir
dan orang sakit, yakni bagi
kedua kelompok ini terdapat dua
kemungkinan: musafir dan
orang yang merasa berat untuk
berpuasa, maka ketika itu dia
harus berbuka; dan ada juga di
antara mereka, yang pada
hakikatnya mampu berpuasa,
tetapi enggan karena kurang
sehat dan atau dalam perjalanan,
maka bagi mereka
diperbolehkan untuk berbuka
dengan syarat membayar
fidyah.
Pendapat-pendapat di atas tidak
populer di kalangan mayoritas
ulama. Mayoritas memahami
penggalan ini berbicara tentang
orang-orang tua atau orang
yang mempunyai pekerjaan
yang sangat berat, sehingga
puasa sangat memberatkannya,
sedang ia tidak mempunyai
sumber rezeki lain kecuali
pekerjaan itu. Maka dalam
kondisi semacam ini. mereka
diperbolehkan untuk tidak
berpuasa dengan syarat
membayar fidyah. Demikian juga
halnya terhadap orang yang
sakit sehingga tidak dapat
berpuasa, dan diduga tidak akan
sembuh dari penyakitnya.
Termasuk juga dalam pesan
penggalan ayat di atas adalah
wanita-wanita hamil dan atau
menyusui. Dalam hal ini terdapat
rincian sebagai berikut:
Wanita yang hamil dan
menyusui wajib membayar
fidyah dan mengganti puasanya
di hari lain, seandainya yang
mereka khawatirkan adalah
janin atau anaknya yang sedang
menyusui. Tetapi bila yang
mereka khawatirkan diri mereka,
maka mereka berbuka dan
hanya wajib menggantinya di
hari lain, tanpa harus membayar
fidyah.
Fidyah dimaksud adalah
memberi makan fakir/miskin
setiap hari selama ia tidak
berpuasa. Ada yang
berpendapat sebanyak setengah
sha ’ (gantang) atau kurang lebih
3,125 gram gandum atau kurma
( makanan pokok). Ada juga yang
menyatakan satu mud yakni
sekitar lima perenam liter, dan
ada lagi yang mengembalikan
penentuan jumlahnya pada
kebiasaan yang berlaku pada
setiap masyarakat.
e. Uhilla lakum lailatash-shiyamir-
rafatsu ila nisa ’ikum
(Dihalalkan kepada kamu pada
malam Ramadhan bersebadan
dengan istrimu) (QS Al-Baqarah
[2]: 187)
Ayat ini membolehkan
hubungan seks (bersebadan) di
malam hari bulan Ramadhan,
dan ini berarti bahwa di siang
hari Ramadhan, hubungan seks
tidak dibenarkan. Termasuk
dalam pengertian hubungan
seks adalah “mengeluarkan
sperma” dengan cara apa pun.
Karena itu walaupun ayat ini tak
melarang ciuman, atau pelukan
antar suami-istri, namun para
ulama mengingatkan bahwa hal
tersebut bersifat makruh,
khususnya bagi yang tidak
dapat menahan diri, karena
dapat mengakibatkan keluarnya
sperma. Menurut istri Nabi,
Aisyah r.a., Nabi saw pernah
mencium istrinya saat berpuasa.
Nah, bagi yang mencium atau
apa pun selain berhubungan
seks, kemudian ternyata
“ basah”, maka puasanya batal;
ia harus menggantinya pada
hari lain. Tetapi mayoritas ulama
tidak mewajibkan yang
bersangkutan membayar
kaffarat, kecuali jika ia
melakukan hubungan seks (di
siang hari), dan kaffaratnya
dalam hal ini berdasarkan hadis
Nabi adalah berpuasa dua bulan
berturut-turut. Jika tidak
mampu, maka ia harus
memerdekakan hamba. Jika tidak
mampu juga, maka ia harus
memberi makan enam puluh
orang miskin.
Bagi yang melakukan hubungan
seks di malam hari, tidak harus
mandi sebelum terbitnya fajar.
Ia hanya berkewajiban mandi
sebelum shalat subuh, sehingga
shalat subuhnya dalam keadaan
suci. Demikian pendapat
mayoritas ulama.
f. Wakulu wasyrabu hatta
yatabayyana lakumul khaith al-
abyadhu minal khaithil aswadi
minal fajr
(Makan dan minumlah sampai
terang bagimu benang putih
dan benang hitam, yaitu fajar).
Ayat ini membolehkan
seseorang untuk makan dan
minum (juga melakukan
hubungan seks) sampai
terbitnya fajar.
Pada zaman Nabi, beberapa saat
sebelum fajar, Bilal
mengumandangkan azan,
namun beliau mengingatkan
bahwa bukan itu yang dimaksud
dengan fajar yang
mengakibatkan larangan di atas.
Imsak yang diadakan hanya
sebagai peringatan dan
persiapan untuk tidak lagi
melakukan aktivitas yang
terlarang. Namun bila dilakukan,
maka dari segi hukum masih
dapat dipertanggungjawabkan
selama waktu subuh belum
masuk. Jadi batas sesungguhnya
bukan imsak, melainkan waktu
subuh (azan subuh).
g. Tsumma atimmush shiyama
ilal lail (Kemudian
sempurnakanlah puasa itu
sampai malam).
Penggalan ayat ini datang
setelah ada izin untuk makan
dan minum sampai dengan
datangnya fajar.
Puasa dimulai dengan terbitnya
fajar, dan berakhir dengan
datangnya malam. Persoalan
yang juga diperbincangkan oleh
para ulama adalah pengertian
malam. Ada yang memahami
kata malam dengan
tenggelamnya matahari
walaupun masih ada mega
merah, dan ada juga yang
memahami malam dengan
hilangnya mega merah dan
menyebarnya kegelapan.
Pendapat pertama didukung
oleh banyak hadis Nabi saw,
sedang pendapat kedua
dikuatkan oleh pengertian
kebahasaan dari lail yang
diterjemahkan “malam”. Kata lail
berarti “sesuatu yang gelap”
karenanya rambut yang
berwarna hitam pun dinamai lail.
Pendapat pertama sejalan juga
dengan anjuran Nabi saw untuk
mempercepat berbuka puasa,
dan memperlambat sahur.
Pendapat kedua sejalan dengan
sikap kehatian-hatian karena
khawatir magrib sebenarnya
belum masuk.
Demikian sedikit dari banyak
aspek hukum yang dicakup oleh
ayat-ayat yang berbicara
tentang puasa Ramadhan.
TUJUAN BERPUASA
Secara jelas Al-Quran
menyatakan bahwa tujuan
puasa adalah untuk mencapai
ketakwaan atau la ’allakum
tattaqun. Dalam rangka
memahami tujuan tersebut
agaknya perlu digarisbawahi
beberapa penjelasan dari Nabi
saw misalnya, “Banyak di antara
orang yang berpuasa tidak
memperoleh sesuatu dari
puasanya, kecuali rasa lapar dan
dahaga. ”
Ini berarti bahwa menahan diri
dari lapar dan dahaga bukan
tujuan utama dari puasa. Ini
dikuatkan pula dengan firman-
Nya bahwa “Allah menghendaki
untuk kamu kemudahan bukan
kesulitan. ”
Di sisi lain, dalam sebuah hadis
qudsi, Allah berfirman, “Semua
amal putra-putri Adam untuk
dirinya, kecuali puasa. Puasa
adalah untuk-Ku dan Aku yang
memberi ganjaran atasnya. ”
Ini berarti pula bahwa puasa
merupakan satu ibadah yang
unik. Tentu saja banyak segi
keunikan puasa yang dapat
dikemukakan, misalnya bahwa
puasa merupakan rahasia antara
Allah dan pelakunya sendiri.
Bukankah manusia yang
berpuasa dapat bersembunyi
untuk minum dan makan?
Bukankah sebagai insan, siapa
pun yang berpuasa, memiliki
keinginan untuk makan atau
minum pada saat-saat tertentu
dari siang hari puasa? Nah, kalau
demikian, apa motivasinya
menahan diri dan keinginan itu?
Tentu bukan karena takut atau
segan dari manusia, sebab jika
demikian, dia dapat saja
bersembunyi dari pandangan
mereka. Di sini disimpulkan
bahwa orang yang berpuasa,
melakukannya demi karena Allah
SWT Demikian antara lain
penjelasan sementara ulama
tentang keunikan puasa dan
makna hadis qudsi di atas.
Sementara pakar ada yang
menegaskan bahwa puasa
dilakukan manusia dengan
berbagai motif, misalnya, protes,
turut belasungkawa, penyucian
diri, kesehatan, dan sebagai-nya.
Tetapi seorang yang berpuasa
Ramadhan dengan benar, sesuai
dengan cara yang dituntut oleh
Al-Quran, maka pastilah ia akan
melakukannya karena Allah
semata.
Di sini Anda boleh bertanya,
“ Bagaimana puasa yang
demikian dapat mengantarkan
manusia kepada takwa ?” Untuk
menjawabnya terlebih dahulu
harus diketahui apa yang
dimaksud dengan takwa.
PUASA DAN TAKWA
Takwa terambil dari akar kata
yang bermakna menghindar,
menjauhi, atau menjaga diri.
Kalimat perintah ittaqullah
secara harfiah berarti,
“ Hindarilah, jauhilah, atau jagalah
dirimu dari Allah”. Makna ini
mustahil dapat dilakukan
makhluk. Bagaimana mungkin
makhluk menghindarkan diri
dari Allah atau menjauhi-Nya,
sedangkan “Dia (Allah) bersama
kamu di mana pun kamu
berada. ” Karena itu perlu
disisipkan kata atau kalimat
untuk meluruskan maknanya.
Misalnya kata siksa atau yang
semakna dengannya, sehingga
perintah bertakwa mengandung
arti perintah untuk “Hindarilah,
jauhilah, atau jagalah dirimu dari
siksa Allah ”.
Sebagaimana kita ketahui, siksa
Allah ada dua macam.
a. Siksa di dunia akibat
pelanggaran terhadap hukum-
hukum Tuhan yang ditetapkan-
Nya berlaku di alam raya ini,
seperti misalnya, “Makan
berlebihan dapat menimbulkan
penyakit, ” “Tidak mengendalikan
diri dapat menjerumuskan
kepada bencana ”, dan hukum-
hukum alam dan masyarakat
lainnya.
b. Siksa di akhirat, akibat
pelanggaran terhadap hukum
syariat, seperti tidak shalat,
tidak puasa, mencuri, melanggar
hak-hak manusia, dan lain-lain
yang dapat mengakibatkan siksa
neraka.
Syaikh Muhammad Abduh
menulis, “Menghindari siksa atau
hukuman Allah, diperoleh
dengan jalan menghindarkan diri
dari segala yang dilarangnya
serta mengikuti apa yang
diperintahkan-Nya. Hal ini dapat
terwujud dengan rasa takut dari
siksaan dan/atau takut dari
yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa
takut ini, pada mulanya timbul
karena adanya siksaan, tetapi
seharusnya ia timbul karena
adanya Allah SWT. ”
Dengan demikian yang
bertakwa adalah orang yang
merasakan kehadiran Allah SWT
setiap saat, “bagaikan melihat-
Nya atau kalau yang demikian
tidak mampu dicapainya, maka
paling tidak, menyadari bahwa
Allah melihatnya, ” sebagaimana
bunyi sebuah hadis.
Tentu banyak cara yang dapat
dilakukan untuk mencapai hal
tersebut, antara lain dengan
jalan berpuasa. Puasa seperti
yang dikemukakan di atas
adalah satu ibadah yang unik.
Keunikannya antara lain karena
ia merupakan upaya manusia
meneladani Allah SWT
PUASA MENELADANI SIFAT-SIFAT
ALLAH
Beragama menurut sementara
pakar adalah upaya manusia
meneladani sifat-sifat Allah,
sesuai dengan kedudukan
manusia sebagai makhluk. Nabi
saw memerintahkan,
“Takhallaqu bi akhlaq
Allah” (Berakhlaklah (teladanilah)
sifat-sifat Allah).
Apakah aku jadikan pelindung
selain Allah yang menjadikan
langit dan bumi padahal Dia
memberi makan dan tidak diberi
makan …? (QS Al-An’am [6]: 14).
Dengan berpuasa, manusia
berupaya dalam tahap awal dan
minimal mencontohi sifat-sifat
tersebut. Tidak makan dan tidak
minum, bahkan memberi makan
orang lain (ketika berbuka
puasa), dan tidak pula
berhubungan seks di pagi-siang-
sore hari, walaupun
pasangannya ada.
Tentu saja sifat-sifat Allah tidak
terbatas pada ketiga hal itu,
tetapi mencakup paling tidak
sembilan puluh sembilan sifat
yang kesemuanya harus
diupayakan untuk diteladani
sesuai dengan kemampuan dan
kedudukan manusia sebagai
makhluk ilahi. Misalnya Maha
Pengasih dan Penyayang,
Mahadamai, Mahakuat, Maha
Mengetahui, dan lain-lain. Upaya
peneladanan ini dapat
mengantarkan manusia
menghadirkan Tuhan dalam
kesadarannya, dan bila hal itu
berhasil dilakukan, maka takwa
dalam pengertian di atas dapat
pula dicapai.
Karena itu, nilai puasa
ditentukan oleh kadar
pencapaian kesadaran tersebut
(bukan pada sisi lapar dan
dahaga), sehingga dari sini
dapat dimengerti mengapa Nabi
saw menyatakan bahwa,
“ Banyak orang yang berpuasa,
tetapi tidak memperoleh dari
puasanya kecuali rasa lapar dan
dahaga. ”
PUASA UMAT TERDAHULU
Puasa telah dilakukan oleh umat-
umat terdahulu. Kama kutiba
‘ alal ladzina min qablikum
(Sebagaimana diwajibkan atas
(umat-umat) yang sebelum
kamu). Dari segi ajaran agama,
para ulama menyatakan bahwa
semua agama samawi, sama
dalam prinsip-prinsip pokok
akidah, syariat, serta akhlaknya.
Ini berarti bahwa semua agama
samawi mengajarkan keesaan
Allah, kenabian, dan keniscayaan
hari kemudian, shalat, puasa,
zakat, dan berkunjung ke tempat
tertentu sebagai pendekatan
kepada Allah adalah prinsip-
prinsip syariat yang dikenal
dalam agama-agama samawi.
Tentu saja cara dan kaifiatnya
dapat berbeda, namun esensi
dan tujuannya sama.
Kita dapat mempertanyakan
mengapa puasa menjadi
kewajiban bagi umat islam dan
umat-umat terdahulu?
Manusia memiliki kebebasan
bertindak memilih dan memilah
aktivitasnya, termasuk dalam hal
ini, makan, minum, dan
berhubungan seks. Kebebasan
yang dimiliki manusia, bila tidak
dikendalikan dapat menghambat
pelaksanaan fungsi dan peranan
yang harus diembannya.
Kenyataan menunjukkan bahwa
orang-orang yang memenuhi
syahwat perutnya melebihi
kadar yang diperlukan, bukan
saja menjadikannya tidak lagi
menikmati makanan atau
minuman itu, tetapi relatif
mudah terserang penyakit.
Sebagaimana disinggung di atas,
esensi puasa adalah menahan
atau mengendalikan diri.
Pengendalian ini diperlukan oleh
manusia, baik secara individu
maupun kelompok. Latihan dan
pengendalian diri itulah esensi
puasa.
Puasa dengan demikian
dibutuhkan oleh semua manusia,
kaya atau miskin, pandai atau
bodoh, untuk kepentingan
pribadi atau masyarakat. Tidak
heran jika puasa telah dikenal
oleh umat-umat sebelum umat
Islam, sebagaimana
diinformasikan oleh Al-Quran.
Nabi saw bersabda, “Seandainya
umatku mengetahui (semua
keistimewaan) yang dikandung
oleh Ramadhan, niscaya mereka
mengharap seluruh bulan
menjadi Ramadhan. ”
KEISTIMEWAAN BULAN
RAMADHAN
Dalam rangkaian ayat-ayat yang
berbicara tentang puasa, Allah
menjelaskan bahwa Al-Quran
diturunkan pada bulan
Ramadhan. Dan pada ayat lain
dinyatakannya bahwa Al-Quran
turun pada malam Qadar,
Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Al-Quran) pada
Lailat Al-Qadr.
Ini berarti bahwa di bulan
Ramadhan terdapat malam
Qadar itu, yang menurut Al-
Quran lebih baik dari seribu
bulan. Para malaikat dan Ruh
(Jibril) silih berganti turun seizin
Allah SWT, dan kedamaian akan
terasa hingga terbitnya fajar.
Di sisi lain bahwa dalam
rangkaian ayat-ayat puasa
Ramadhan, disisipkan ayat yang
mengandung pesan tentang
kedekatan Allah SWT kepada
hamba-hamba-Nya serta janji-
Nya untuk mengabulkan doa
siapa pun yang dengan tulus
berdoa.
Rabu, 15 Juni 2011
Pengaruh Gerhana Bulan terhadap Kekuatan Gravitasi Bumi
Konsep gravitasi antar
dua planet di jelaskan
oleh hukum ke-3
newton. Anggap ada
sebuah titik bermassa m
diantara bumi-bulan
berjarak h meter dari
permukaan bumi dan
jarak bumi- bulan H
meter, maka besar gaya
gravitasi bumi dan gaya
gravitasi bulan
berturut2 diukur dari
pusat bumi-bulan yang
dirasakan oleh titik
adalah :
Fbumi-titik = G x Mbm x
m / (h + Rbm)^2
Ftitik-bulan = G x Mbl x
m / (H - h + Rbl)^2
Untuk mengetahui
apakah ada beda antara
Fbumi-titik dengan
Ftitik-bulan, maka
perbandingkan. Jika
Fbumi-titik : Ftitik-bulan
= 1 : 1 , maka
kesimpulannya tidak ada
pengaruh gravitasi
bulan terhadap
kekuatan gravitasi bumi.
Fbumi-titik/Ftitik-bulan
=[G x Mbm x m / (h +
Rbm)^2]/[G x Mbl x m /
(H - h + Rbl)^2]
Fbumi-titik/Ftitik-bulan
= Mbm/Mbl x [(H - h +
Rbl)/(h + Rbm)]^2
karena Mbm > Mbl dan
Rbm > Rbl , maka nilai
akhirnya tergantung h
atau jarak titik-bumi,
artinya ada posisi (h0)
dimana titik tsb tidak
mengalami gravitasi dari
keduanya.
Posisi ini terjadi saat
Fbumi-titik = Ftitik-
bulan ,atau :
[(h + Rbm)/(H - h +
Rbl)]^2 = Mbm/mbl
(h + Rbm)/(H - h + Rbl) =
akar (Mbm/mbl)
h0 = [(H + Rbl) x akar
(Mbm/Mbl) - Rbm]/[1 +
akar (Mbm/Mbl)]
Sehingga :
Jika h < h0 ,maka Fbumi- titik > Ftitik-bulan
Jika h > h0 ,maka Fbumi-
titik < Ftitik-bulan
Jika h = h0 ,maka Fbumi-
titik = Ftitik-bulan
Kesimpulannya :
"Pengaruh gravitasi
bulan menyebabkan
kekuatan gravitasi bumi
semakin berkurang"
Contoh sederhana
pengaruh efek gravitasi
bulan adalah perubahan
tinggi permukaan laut
(pasang-surut).
Sumber :
semua buku fisika sma
bab gravitasi
dua planet di jelaskan
oleh hukum ke-3
newton. Anggap ada
sebuah titik bermassa m
diantara bumi-bulan
berjarak h meter dari
permukaan bumi dan
jarak bumi- bulan H
meter, maka besar gaya
gravitasi bumi dan gaya
gravitasi bulan
berturut2 diukur dari
pusat bumi-bulan yang
dirasakan oleh titik
adalah :
Fbumi-titik = G x Mbm x
m / (h + Rbm)^2
Ftitik-bulan = G x Mbl x
m / (H - h + Rbl)^2
Untuk mengetahui
apakah ada beda antara
Fbumi-titik dengan
Ftitik-bulan, maka
perbandingkan. Jika
Fbumi-titik : Ftitik-bulan
= 1 : 1 , maka
kesimpulannya tidak ada
pengaruh gravitasi
bulan terhadap
kekuatan gravitasi bumi.
Fbumi-titik/Ftitik-bulan
=[G x Mbm x m / (h +
Rbm)^2]/[G x Mbl x m /
(H - h + Rbl)^2]
Fbumi-titik/Ftitik-bulan
= Mbm/Mbl x [(H - h +
Rbl)/(h + Rbm)]^2
karena Mbm > Mbl dan
Rbm > Rbl , maka nilai
akhirnya tergantung h
atau jarak titik-bumi,
artinya ada posisi (h0)
dimana titik tsb tidak
mengalami gravitasi dari
keduanya.
Posisi ini terjadi saat
Fbumi-titik = Ftitik-
bulan ,atau :
[(h + Rbm)/(H - h +
Rbl)]^2 = Mbm/mbl
(h + Rbm)/(H - h + Rbl) =
akar (Mbm/mbl)
h0 = [(H + Rbl) x akar
(Mbm/Mbl) - Rbm]/[1 +
akar (Mbm/Mbl)]
Sehingga :
Jika h < h0 ,maka Fbumi- titik > Ftitik-bulan
Jika h > h0 ,maka Fbumi-
titik < Ftitik-bulan
Jika h = h0 ,maka Fbumi-
titik = Ftitik-bulan
Kesimpulannya :
"Pengaruh gravitasi
bulan menyebabkan
kekuatan gravitasi bumi
semakin berkurang"
Contoh sederhana
pengaruh efek gravitasi
bulan adalah perubahan
tinggi permukaan laut
(pasang-surut).
Sumber :
semua buku fisika sma
bab gravitasi
Gerhana Bulan
Gerhana bulan
terjadi saat
sebagian atau keseluruhan
penampang bulan tertutup oleh
bayangan bumi. Itu terjadi bila
bumi berada di antara matahari
dan bulan pada satu garis lurus
yang sama, sehingga sinar
matahari tidak dapat mencapai
bulan karena terhalangi oleh
bumi.
Dengan penjelasan lain, gerhana
bulan muncul bila bulan sedang
beroposisi dengan matahari.
Tetapi karena kemiringan bidang
orbit bulan terhadap bidang
ekliptika, maka tidak setiap
oposisi bulan dengan matahari
akan mengakibatkan terjadinya
gerhana bulan. Perpotongan
bidang orbit bulan dengan
bidang ekliptika akan
memunculkan 2 buah titik
potong yang disebut node, yaitu
titik di mana bulan memotong
bidang ekliptika. Gerhana bulan
ini akan terjadi saat bulan
beroposisi pada node tersebut.
Bulan membutuhkan waktu
29,53 hari untuk bergerak dari
satu titik oposisi ke titik oposisi
lainnya. Maka seharusnya, jika
terjadi gerhana bulan, akan
diikuti dengan gerhana matahari
karena kedua node tersebut
terletak pada garis yang
menghubungkan antara
matahari dengan bumi.
Sebenarnya, pada peristiwa
gerhana bulan, seringkali bulan
masih dapat terlihat. Ini
dikarenakan masih adanya sinar
matahari yang dibelokkan ke
arah bulan oleh atmosfer bumi.
Dan kebanyakan sinar yang
dibelokkan ini memiliki spektrum
cahaya merah. Itulah sebabnya
pada saat gerhana bulan, bulan
akan tampak berwarna gelap,
bisa berwarna merah tembaga,
jingga, ataupun coklat.
Gerhana bulan dapat diamati
dengan mata telanjang dan tidak
berbahaya sama sekali.
Jenis-jenis gerhana bulan
Gerhana bulan total
Pada gerhana ini, bulan akan
tepat berada pada daerah
umbra.
Gerhana bulan sebagian
Pada gerhana ini, tidak seluruh
bagian bulan terhalangi dari
matahari oleh bumi. Sedangkan
sebagian permukaan bulan yang
lain berada di daerah penumbra.
Sehingga masih ada sebagian
sinar matahari yang sampai ke
permukaan bulan.
Gerhana bulan penumbra
Pada gerhana ini, seluruh bagian
bulan berada di bagian
penumbra. Sehingga bulan masih
dapat terlihat dengan warna
yang suram.
terjadi saat
sebagian atau keseluruhan
penampang bulan tertutup oleh
bayangan bumi. Itu terjadi bila
bumi berada di antara matahari
dan bulan pada satu garis lurus
yang sama, sehingga sinar
matahari tidak dapat mencapai
bulan karena terhalangi oleh
bumi.
Dengan penjelasan lain, gerhana
bulan muncul bila bulan sedang
beroposisi dengan matahari.
Tetapi karena kemiringan bidang
orbit bulan terhadap bidang
ekliptika, maka tidak setiap
oposisi bulan dengan matahari
akan mengakibatkan terjadinya
gerhana bulan. Perpotongan
bidang orbit bulan dengan
bidang ekliptika akan
memunculkan 2 buah titik
potong yang disebut node, yaitu
titik di mana bulan memotong
bidang ekliptika. Gerhana bulan
ini akan terjadi saat bulan
beroposisi pada node tersebut.
Bulan membutuhkan waktu
29,53 hari untuk bergerak dari
satu titik oposisi ke titik oposisi
lainnya. Maka seharusnya, jika
terjadi gerhana bulan, akan
diikuti dengan gerhana matahari
karena kedua node tersebut
terletak pada garis yang
menghubungkan antara
matahari dengan bumi.
Sebenarnya, pada peristiwa
gerhana bulan, seringkali bulan
masih dapat terlihat. Ini
dikarenakan masih adanya sinar
matahari yang dibelokkan ke
arah bulan oleh atmosfer bumi.
Dan kebanyakan sinar yang
dibelokkan ini memiliki spektrum
cahaya merah. Itulah sebabnya
pada saat gerhana bulan, bulan
akan tampak berwarna gelap,
bisa berwarna merah tembaga,
jingga, ataupun coklat.
Gerhana bulan dapat diamati
dengan mata telanjang dan tidak
berbahaya sama sekali.
Jenis-jenis gerhana bulan
Gerhana bulan total
Pada gerhana ini, bulan akan
tepat berada pada daerah
umbra.
Gerhana bulan sebagian
Pada gerhana ini, tidak seluruh
bagian bulan terhalangi dari
matahari oleh bumi. Sedangkan
sebagian permukaan bulan yang
lain berada di daerah penumbra.
Sehingga masih ada sebagian
sinar matahari yang sampai ke
permukaan bulan.
Gerhana bulan penumbra
Pada gerhana ini, seluruh bagian
bulan berada di bagian
penumbra. Sehingga bulan masih
dapat terlihat dengan warna
yang suram.
Jumat, 10 Juni 2011
Manfaat minum KOPI dan kekurangannya
Berbicara mengenai kopi,
banyak orang yang masih
berpendapat bahwa kopi buruk
bagi kesehatan. Sebenarnya hal
itu tidak sepenuhnya benar.
Kopi, asalkan dikonsumsi
secara bijak, sebenarnya
justru bermanfaat bagi
kesehatan . Apa pun, bukan
hanya kopi, bila dikonsumsi
berlebihan pasti tidak baik.
Manfaat Kopi
Menurut Harvard Women’s
Health, konsumsi kopi beberapa
cangkir sehari dapat
mengurangi risiko diabetes tipe
2, pembentukan batu ginjal,
kanker usus besar, penyakit
parkinson, kerusakan fungsi
hati (sirosis), penyakit jantung
serta menghambat penurunan
daya kognitif otak.
Diabetes. Dua puluh
studi yang dilakukan
di seluruh dunia
menunjukkan bahwa
kopi mengurangi
risiko diabetes tipe 2
hingga 50%. Para
peneliti menduga
penyebabnya adalah
asam klorogenik di
dalam kopi berperan
memperlambat
penyerapan gula
dalam pencernaan.
Asam klorogenik juga
merangsang
pembentukan GLP-1,
zat kimia yang
meningkatkan insulin
(hormon yang
mengatur
penyerapan gula ke
dalam sel-sel). Zat lain
dalam kopi yaitu
trigonelin (pro
vitamin B3) juga
diduga membantu
memperlambat
penyerapan glukosa.
Kanker. Riset secara
konsisten
menunjukkan bahwa
kopi mengurangi
risiko kanker hati,
kanker payudara dan
kanker usus besar.
Sirosis. Kopi
melindungi hati dari
sirosis, terutama
sirosis karena
kecanduan alkohol.
Penyakit Parkinson.
Para peminum kopi
memiliki risiko
terkena Parkinson
setengah lebih rendah
dibanding mereka
yang tidak minum
kopi.
Penyakit jantung
dan stroke.
Konsumsi kopi tidak
meningkatkan risiko
jantung dan stroke.
Sebaliknya, kopi
justru sedikit
mengurangi risiko
stoke. Sebuah studi
atas lebih dari 83.000
wanita berusia lebih
dari 24 tahun
menunjukkan mereka
yang minum dua
sampai tiga cangkir
kopi sehari memiliki
risiko terkena stroke
19% lebih rendah
dibandingkan mereka
yang tidak minum
kopi. Studi terhadap
sejumlah pria di
Finlandia
menunjukkan hasil
yang sama.
Fungsi kognitif.
Studi atas 4.197
wanita dan 2.820 pria
di Perancis
menunjukkan bahwa
meminum setidaknya
tiga cangkir kopi
sehari dapat
menghambat
penurunan fungsi
kognitif otak akibat
penuaan hingga 33
persen pada wanita.
Namun, manfaat yang
sama tidak ditemukan
pada pria. Hal ini
mungkin karena
wanita lebih peka
terhadap kafein.
Efek Negatif Kopi
Namun demikian, kopi juga
memiliki efek negatif. Kafein
sebagai kandungan utama kopi
bersifat stimulan yang
mencandu. Kafein
mempengaruhi sistem
kardiovaskuler seperti
peningkatan detak jantung dan
tekanan darah. Dampak negatif
itu muncul bila Anda
mengkonsumsinya secara
berlebihan.
Bagi kebanyakan orang, minum
dua sampai tiga cangkir kopi
tidak memberikan dampak
negatif. Meminum kopi dengan
frekuensi lebih dari itu bisa
menimbulkan jantung
berdebar-debar, sulit tidur,
kepala pusing dan gangguan
lainnya. Oleh karena itu, bagi
mereka yang mengkonsumsi
kopi agar tidak mengantuk –
misalnya karena kekurangan
tidur – disarankan agar
konsumsinya disebar sepanjang
hari.
Riset mengenai hubungan
konsumsi kopi dengan
keguguran kandungan tidak
memberikan kesimpulan
seragam. Tetapi, untuk
amannya ibu hamil disarankan
tidak minum lebih dari satu
cangkir kopi sehari.
banyak orang yang masih
berpendapat bahwa kopi buruk
bagi kesehatan. Sebenarnya hal
itu tidak sepenuhnya benar.
Kopi, asalkan dikonsumsi
secara bijak, sebenarnya
justru bermanfaat bagi
kesehatan . Apa pun, bukan
hanya kopi, bila dikonsumsi
berlebihan pasti tidak baik.
Manfaat Kopi
Menurut Harvard Women’s
Health, konsumsi kopi beberapa
cangkir sehari dapat
mengurangi risiko diabetes tipe
2, pembentukan batu ginjal,
kanker usus besar, penyakit
parkinson, kerusakan fungsi
hati (sirosis), penyakit jantung
serta menghambat penurunan
daya kognitif otak.
Diabetes. Dua puluh
studi yang dilakukan
di seluruh dunia
menunjukkan bahwa
kopi mengurangi
risiko diabetes tipe 2
hingga 50%. Para
peneliti menduga
penyebabnya adalah
asam klorogenik di
dalam kopi berperan
memperlambat
penyerapan gula
dalam pencernaan.
Asam klorogenik juga
merangsang
pembentukan GLP-1,
zat kimia yang
meningkatkan insulin
(hormon yang
mengatur
penyerapan gula ke
dalam sel-sel). Zat lain
dalam kopi yaitu
trigonelin (pro
vitamin B3) juga
diduga membantu
memperlambat
penyerapan glukosa.
Kanker. Riset secara
konsisten
menunjukkan bahwa
kopi mengurangi
risiko kanker hati,
kanker payudara dan
kanker usus besar.
Sirosis. Kopi
melindungi hati dari
sirosis, terutama
sirosis karena
kecanduan alkohol.
Penyakit Parkinson.
Para peminum kopi
memiliki risiko
terkena Parkinson
setengah lebih rendah
dibanding mereka
yang tidak minum
kopi.
Penyakit jantung
dan stroke.
Konsumsi kopi tidak
meningkatkan risiko
jantung dan stroke.
Sebaliknya, kopi
justru sedikit
mengurangi risiko
stoke. Sebuah studi
atas lebih dari 83.000
wanita berusia lebih
dari 24 tahun
menunjukkan mereka
yang minum dua
sampai tiga cangkir
kopi sehari memiliki
risiko terkena stroke
19% lebih rendah
dibandingkan mereka
yang tidak minum
kopi. Studi terhadap
sejumlah pria di
Finlandia
menunjukkan hasil
yang sama.
Fungsi kognitif.
Studi atas 4.197
wanita dan 2.820 pria
di Perancis
menunjukkan bahwa
meminum setidaknya
tiga cangkir kopi
sehari dapat
menghambat
penurunan fungsi
kognitif otak akibat
penuaan hingga 33
persen pada wanita.
Namun, manfaat yang
sama tidak ditemukan
pada pria. Hal ini
mungkin karena
wanita lebih peka
terhadap kafein.
Efek Negatif Kopi
Namun demikian, kopi juga
memiliki efek negatif. Kafein
sebagai kandungan utama kopi
bersifat stimulan yang
mencandu. Kafein
mempengaruhi sistem
kardiovaskuler seperti
peningkatan detak jantung dan
tekanan darah. Dampak negatif
itu muncul bila Anda
mengkonsumsinya secara
berlebihan.
Bagi kebanyakan orang, minum
dua sampai tiga cangkir kopi
tidak memberikan dampak
negatif. Meminum kopi dengan
frekuensi lebih dari itu bisa
menimbulkan jantung
berdebar-debar, sulit tidur,
kepala pusing dan gangguan
lainnya. Oleh karena itu, bagi
mereka yang mengkonsumsi
kopi agar tidak mengantuk –
misalnya karena kekurangan
tidur – disarankan agar
konsumsinya disebar sepanjang
hari.
Riset mengenai hubungan
konsumsi kopi dengan
keguguran kandungan tidak
memberikan kesimpulan
seragam. Tetapi, untuk
amannya ibu hamil disarankan
tidak minum lebih dari satu
cangkir kopi sehari.
Langganan:
Postingan (Atom)





